KEHIDUPAN KELUARGA NABI Aa Gym dalam khotbahnya menyatakan hal berikut: ALLOH SWT menjelaskan dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya Rasul ALLOH itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui ALLOH di hari kemudian dan yang mengingati ALLOH sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab [33]: 21). Seakan ayat ini menyatakan bahwa tidak usah kita melakukan apapun kecuali ada contohnya dari Rasulullah. Ketika misalnya, rumah tangga keluarga kita berantakan, maka solusi terbaiknya adalah dengan mencontoh Rasul dalam mengemudikan bahtera rumah tangganya. Subhanallah, siapapun yang mampunyai referensi Rasulullah dalam perilaku sehari-harinya, maka hidupnya seperti seorang yang punya katalog yang sangat mudah di akses, segalanya serba tertuntun. Sepeninggal Khadijah (istri pertama Nabi), Nabi menikah lagi dengan banyak istri. Antara usia 50th~58th, Nabi menikahi paling tidak 7 istri. Usia istri Nabi bervariasi antara 6th (Aisha, dinikahi dalam umur 6th tapi baru berumahtangga dengan Nabi dalam usia 9th) sampai dengan 50th. Pada usia 59th, Nabi masih menikah lagi paling sedikut dengan 4 istri lagi yang usianya antara 17th (Safiyah) s/d 36th (Maimunah). Catatan istri Nabi bervariasi. Buku-buku biografi Nabi paling awal (Ibn. Ishaq, Tabari) menyebutkan jauh lebih banyak dari pada yang disebutkan dalam biografi yang ditulis penulis-penulis modern. Berikut saya kutip/terjemahkan dari “The Sealed Nectar” (oleh Saif-ur-Rahman al-Mubarakpuri; tersedia online) 1. Khadijah Bint Khuwailid: Menikah di Mekah sebelum Hijra. Nabi berusia 25th dan Khadijah (janda) 40th. Merupakan istri nabi satu-satunya sampai Khadijah meninggal. Dari Khadijah, Nabi memiliki anak perempuan dan laki-laki. Semua anak laki-lakinya meninggal waktu masih kecil. Anak perempuannya bernama: Zainab, Ruqaiya, Umm Kulthum dan Fatimah. Zainab menikah dengan sepupunya bernama Abu Al-‘As bin Al-Rabi‘ (sebelum hijra). Ruqaiya dan Umm Kulthum keduanya menikah dengan ‘Uthman bin ‘Affan (sahabat nabi, kalifa ke 3) (Umm Kulthum menggantikan Ruqaiya setelah kakaknya meninggal). Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Talib (jadi Ali sepupu Nabi) pada periode anatra perang Badr dan Uhud. Anak-anak Ali/Fatimah adalah Al-Hasan, Al-Husain, Zainab and Umm Kulthum. 2. Sawdah bint Zam‘a (Janda): Dinikahi dibulan shawal pada tahun kesepeluh masa kenabian Muhammad (berarti kurang lebih usia nabi 50th), beberapa hari setelah Khadijah meninggal. 3. ‘Aishah bint Abu Bakr (Abu Bakr adalah sahabat Nabi dan merupkana kalifa 1): Dinikahi pada tahun kesepuluh masa kenabian nabi, satu tahun setelah pernikahannya dengan Sawdah (usia Nabi +/- 51th), dan +/- 2th 5 bulan sebelum Hijra. Pada saat itu Aisha berusia 6th, dan baru masuk kedalam rumah tangga Nabi pada usia 9th, +/- 7bulan setelah hijra (usia Nabi 53th) di Medina. Aisha satu-satunya perawan yang dinikahi Nabi dan istri yang paling dicintai Nabi. 4. Hafsah bint ‘Umar bin Al-Khattab (Umar sahabat Nabi, kalifa 2): Janda dari Khunais bin Hudhafa As-Sahmi (meinggal dalam perang Uhud). Dinikahi Nabi pada tahun ke-3 AH (usia Nabi +/- 55th). 5. Zainab bint Khuzaimah: Dia berasal dari bani Bani Hilal bin ‘Amir bin Sa‘sa‘a. Zainab adalah janda dari Abdullah bin Jahsh, yang meninggal dalam perang Uhud. Dinikahi Nabi pada tahun ke-4 AH (Usia Nabi 56th). Zainab meninggal 3~4 bulan setelah pernikahnnya dengan Nabi. 6. Umm Salamah Hind bint Abi Omaiyah: Janda Abu Salamah yang meninggal di Jumada Al-Akhir, pada th ke-4 AH (Usia Nabi 56th). Dinikahi Nabi pada tahun yang sama. 7. Zainab bint Jahsh bin Riyab: Dia dari Bani Asad bin Khuzaimah dan adalah sepupu Nabi. Dia sebelumnya menikah dengan anak angkat nabi yang bernama Zaid bin Haritha. Dinikahi Nabi pada tahun ke 5 AH (usia nabi +/-57th) 8. Juwairiyah bint Al-Harith: Al-Harith adalah pemimpin Bani Al-Mustaliq dari Khuza‘ah. Juwairiyah merupakan tawanan dari “booty” yang jatuh ketangan Muslim dari Bani Al-Mustaliq. Juwairiyah tadinya bagian “booty” dari Thabit bin Qais bin Shammas’. Nabi membebaskannya dan menikahinya pada tahun ke 6 AH. (usia nabi +/- 58th). 9. Umm Habibah: anak dari Abu Sufyan dan janda dari Ubaidullah bin Jahsh. Dinikahi Nabi pada tahun ke 7 AH (Usia Nabi +/- 59th). 10. Safiyah bint Huyai bin Akhtab: Yahudi, merupakan booty yang jatuh ketangan muslim dari perang Khaibar. Nabi membebaskannya dan menikahinya pada tahun ke-7 AH. (Usia Nabi 59th). 11. Maimunah bint Al-Harith: Anak Al-Harith dan saudara Umm Al-Fadl Lubabah bint Al-Harith. Dinikahi Nabi setelah umrah pada th-7 AH. (usia nabi 59th). Diatas adalah kesebelas istri Nabi. Dua meninggal lebih dulu dari Nabi (Khadijah dan Zainab bint Khuzaimah). Sembilan yang lain masih hidup sewaktu Nabi meninggal. Adu dua istri lagi yang dinikahi Nabi tapi tidak masuk dalam rumah tangga Nabi yaitu satu dari Bani Kilab dan satunya lagi dari Bani Kindah yang bernama Al-Jauniyah. Disamping istri-istri tersebut, Nabi juga memiliki dua “Concubines” (wanita simpanan). Yang pertama adalah Mariyah (orang kristen dari Mesir) yang merupakan hadiah dari Al-Muqauqis, pejabat/penguasa Mesir. Dengan Mariyah, Nabi memperoleh anak laki-laki bernama Ibrahim yang meninggal pada saat masih kecil di Medina pada th 10AH. Yang kedua adalah Raihanah bint Zaid An-Nadriyah atau Quraziyah, tawanan dari Bani Quraiza (yahudi). Beberapa penulis menyebutkan bahwa ddia adalah salah satu istri Nabi. Abu ‘Ubaidah menyebutkan Nabi memiliki dua lagi Concubines, salah satu adalah tawanan perang dan satunya lagi budak wanita pemberian Zainab bint Jahsh. [Za'd Al-Ma'ad 1/29]. Kenapa Nabi memiliki begitu banyak istri bahkan simpanan? Kalau kita membaca Al-Tabari, istri-istri dan simpanan Nabi jauh lebih banyak dari itu. Bagaimana ulama menjelaskan ini. Semua ada justifikasinya. Intinya yang saya tahu adalah semua itu dilakukan untuk kepentingan penyebaran Islam bukan karena nafsu seksual. Apakah demikian? Bagaimana ceritanya? Bagaimana sikap Nabi terhadap istri-istrinya? Quran membatasi muslim untuk memiliki istri maksimal 4 orang. (S. 4:3, diturunkan di Medinah +/- th-3 AH, setelah perang UHUD, yang menewaskan 70 orang muslim) Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Dalam beberapa hadiths diceritakan bahwa setelah turunnya ayat itu, Nabi memerintahkan orang muslim yang memiliki lebih dari 4 istri untuk menceraikan kelebihannya. Bagaimana dengan Nabi sendiri. Pada waktu Nabi menikahi Zainab bekas istri anak angkatnya, Nabi sudah memiliki istri 4 orang (semestinya 6 orang, yang dua sudah meninggal yaitu Khadijah dan Zainab bint Khuzaimah). Padahal Quran S 4:3 membatasi jumlah istri maksimal-4. Lebih-lebih, Zainab adalah bekas istri anak angkat Nabi yang bernama Zaid. Pada waktu itu, orang arab memperlakukan anak angkat seperti anak kandungnya sendiri, yang memperoleh hak (harta warisan, nama dsb) dan kewajiban sama dengan anak kandung. Menikahi bekas istri anaknya (meskipun anak angkat) dianggap sebagai tabu. Jadi ada beberapa isu disini. Pertama mengenai jumlah istri, kedua mengenai masalah anak angkat dan ketiga menikahi istri bekas anak angkatnya. Pernikahan Nabi dengan Zainab bint Jash Surat 33 (Al Ahzab, diturunkan di Medinah pada tahun 5AH), menghapus praktek adopsi anak bagi orang islam dan memberikan kebebasan kepada Nabi mengenai jumlah istri yang boleh dimiliki Nabi. (S 33:4) Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (5) Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hal ini diturunkan berkaitan dengan Zaid bin Harithah, bekas budak Nabi yang sudah dibebaskan dan diangkat anak oleh Nabi sebelum masa kenabian. Dan saat itu Zaid biasa dipanggil dengan sebutan Zaid Bin Muhammad. Allah ingin menghapus praktek ini yang biasa dilakukan orang arab jaman itu. Dengan ayat ini praktek adopsi jaman itu dihapus dalam Islam. Dan juga ayat berikut: (S 33:40) Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dengan dirurunkannya ayat ini, tidak boleh lagi memanggil Zaid dengan nama Zaid bin Muhammad karena Nabi Muhammad bukan ayahnya. Sejak turunnya ayat itu Zaid dipanggil Zaid bin Harithah. Kemudian dalam ayat berikut Allah menetapkan pernikahan Nabi dengan Zainab bekas istri anak angkatnya (S 33:37) Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Kemudian ayat berikut memberikan pengecualian kepada Nabi berkaitan dengan kehidupan perkawinannya yang tidak diberikan kepada umat islam, termasuk diantaranya pembebasan kepada Nabi untuk memiliki istri lebih dari 4. (S 33:50) Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (51) Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (52) Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. Berikut lebih jauh cerita mengenai perkawinan Zaid dan Zainab yang saya kutip dari sumber Islam: Quran S 33:37 menyatakan ketetapan Allah mengenai perkawinan Nabi dan Zainab bekas anak angkatnya dengan alasan supaya Nabi bisa memberikan contoh kepada orang mukmin untuk bisa mengawini bekas istri anak-anak angkat mereka. (S 33:37) Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Berikut berdasarkan tafsir Ibn Kathir: Disini Allah mengatakan apa yang dikatakan Nabi kepada Zaid. <"Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah"> Ini perkataan Nabi kepada Zaid untuk tidak menceraikan Zainab. Kemudian Allah mengatakan: Allah mengingatkan Nabi untuk tidak menyembunyikan didalam hatinya apa yang Allah akan menyatakannya dan supaya Nabi tidak takut kepada manusia karena Allah yang lebih berhak ditakuti. Ibn jarir menarasikan bahwa Aisha berkata “Jika Muhammad perlu untuk menyembunyikan sesuatu yang diturunkan kepada dia dalam kitab Allah, dia pasti akan menyembunyikan ayat berikut: Tafsir Jalalain (terjemahan Indonesia, dijual di dalam CD di Jakarta): (Dan ketika) ingatlah ketika (kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya) yakni nikmat Islam (dan kamu juga telah memberi nikmat kepadanya,) dengan memerdekakannya, yang dimaksud adalah Zaid bin Haritsah, dahulu pada zaman jahiliah dia adalah tawanan kemudian ia dibeli oleh Rasulullah, lalu dimerdekakan dan diangkat menjadi anak angkatnya sendiri ("Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah") dalam hal menalaknya (sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya) akan membeberkannya, yaitu perasaan cinta kepada Zainab binti Jahsy, dan kamu berharap seandainya Zaid menalaknya, maka kamu akan menikahinya (dan kamu takut kepada manusia) bila mereka mengatakan bahwa dia telah menikahi bekas istri anaknya (sedangkan Allahlah yang lebih berhak untuk kamu takuti) dalam segala hal dan dalam masalah menikahinya, dan janganlah kamu takuti perkataan manusia. Kemudian Zaid menalak istrinya dan setelah idahnya habis, Allah swt. berfirman, ("Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya) yakni kebutuhannya (Kami kawinkan kamu dengan dia) maka Nabi saw. langsung mengawininya tanpa meminta persetujuannya dulu, kemudian beliau membuat walimah buat kaum Muslimin dengan hidangan roti dan daging yang mengenyangkan mereka (supaya tidak ada keberatan bagi orang Mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu) apa yang telah dipastikan oleh-Nya (pasti terjadi.") Al-Tabari (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, diterjemahkan oleh Michael Fishbein [State University of New York Press, Albany, 1997], Volume VIII) memberikan latar belakang sejarah berkaitan dengan S33:37 sbb: Rasul Allah datang kerumah Zayd b. Harithah (Zayd biasa dipanggil Zayd b. Muhammad) Mungkin Rasul Allah tidak bertemu dengannya saat itu, sehingga bertanya,”Dimana Zaid?” Dia datang ke rumahnya untuk mencarinya tetapi tidak menemukan Zayd. Zainab bt. Jash, istri Zayd, bangkit menemuinya. Karena dia hanya berpakaian seadanya, Rasul Allah memalingkan muka darinya. Dia (Zainab) berkata:”Dia tidak ada disini, Rasul Allah. Silahkan masuk, Anda sudah anda sudah sedekat ayah dan ibu saya!”. Rasul Allah menolak masuk. Zainab berpakian secara terburu-buru pada waktu dia diberitahu bahwa “Rasul Allah ada di depan pintu.”Dia melompat dengan tergesa-gesa dan membuat terkesan Rasul Allah, sehingga dia berbalik sambil mengucapkan sesautu yang sulit agak susah dimengerti. Meskipun demikian, dia kelihatannya mengatakan : “Kemuliaan untuk Allah! Kemuliaan untuk Allah, yang menyebabkan hati berpaling!” Pada waktu Zaid pulang ke rumah, istrinya mengatakan padanya bahwa Rasul Allah tadi datang kerumah. Zaid berkata,”Mengapa kamu tidak memintanya masuk?” Dia menjawab,”Saya memintanya tapi dia menolak”. “Apakah kamu mendengar dia mengatakan sesuatu?” dia bertanya. Zainab menjawab,”Sewaktu dia berbalik pergi, saya mendengar dia berkata:”Kemuliaan untuk Allah! Kemuliaan untuk Allah, yang menyebabkan hati berpaling!” Maka Zayd pergi, dan setelah bertemu Nabi, dia berkata:”Rasul Allah, saya mendengar anda datang ke rumah saya. Mengapa anda tidak masuk, anda sudah sedekat ayah dan ibu saya? Rasul Allah, mungkin Zainab telah menarik hati anda, maka jika begitu saya akanberpisah dari dia.” Zayd tidak tahu lagi bagaimana cara mendekati Zainab setalah hari itu. Dia akan datang kepada Nabi dan mengatakan hal ini, tetapi Rasul Allah akan mengatakan kepada dia, “Tahan istrimu.” Zaid memisahkan diri dari dia dan meninggalkannya, dan dia menjadi bebas. Pada waktu Rasul Allah bercakap-cakap dengan Aisha, dia menjadi pingsan. Pada waktu Rasul Allah sadar, dia tersenyum dan berkata,”Siapa yang akan pergi kepada Zainab untuk memberitahu dai kabar baik, katakan bahwa Allah telah menikahkan dia kepada saya?” Kemudian Rasul Allah mengucapkan:”Dan ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu”-dan seluruh bagiannya. Menurut Aisha, yang berkata:”Saya menjadi tidak enak karena apa yang kami dengar tentang kecantikannya dan hal lainnya, hal-hal hebat dan menakjubkan-yang telah Allah lakukan untuk dia dengan memberikannya dalam pernikahan. Saya katakan dia akan menyombongkan hal ini kepada kami.” versi bahasa Inggrisnya: The Messenger of God came to the house of Zayd b. Harithah. (Zayd was always called Zayd b. Muhammad.) Perhaps the Messenger of God missed him at that moment, so as to ask, "Where is Zayd?" He came to his residence to look for him but did not find him. Zaynab bt. Jash, Zayd’s wife, rose to meet him. Because she was dressed only in a shift, the Messenger of God turned away from her. She said: "He is not here, Messenger of God. Come in, you who are as dear to me as my father and mother!" The Messenger of God refused to enter. Zaynab had dressed in haste when she was told "the Messenger of God is at the door." She jumped up in haste and excited the admiration of the Messenger of God, so that he turned away murmuring something that could scarcely be understood. However, he did say overtly: "Glory be to God the Almighty! Glory be to God, who causes the hearts to turn!" When Zayd came home, his wife told him that the Messenger of God had come to his house. Zayd said, "Why didn't you ask him to come in?" He replied, "I asked him, but he refused." "Did you hear him say anything?" he asked. She replied, "As he turned away, I heard him say: ‘Glory be to God the Almighty! Glory be to God, who causes hearts to turn!’" So Zayd left, and having come to the Messenger of God, he said: "Messenger of God, I have heard that you came to my house. Why didn’t you go in, you who are as dear to me as my father and mother? Messenger of God, perhaps Zaynab has excited your admiration, and so I will separate myself from her." Zayd could find no possible way to [approach] her after that day. He would come to the Messenger of God and tell him so, but the Messenger of God would say to him, "Keep your wife." Zayd separated from her and left her, and she became free. While the Messenger of God was talking with 'A'isha, a fainting overcame him. When he was released from it, he smiled and said, "Who will go to Zaynab to tell her the good news, saying that God has married her to me?" Then the Messenger of God recited: "And when you said unto him on whom God has conferred favor and you have conferred favor, ‘Keep your wife to yourself .’"- and the entire passage. According to 'A'isha, who said: "I became very uneasy because of what we heard about her beauty and another thing, the greatest and loftiest of matters - what God had done for her by giving her in marriage. I said she would boast of it over us." Beberapa kutipan hadiths berikut memberikan informasi tambahan mengenai hal ini: Sahih Al-Bukhari, Volume 9, Book 93, Number 516 Dinarasikan oleh Anas: Zaid bin Haritha datang kepada Nabi mengeluh tentang istrinya. Nabi terus berkata (kepadanya),”Takutlah kepada Allah dan tahanlah istrimu.” Aisha berkata,”Jika Rasul Allah perlu menyembunyikan sesuatu (dari Quran) dia pasti akan menyembunyikan hal ini,”Zainab biasa menyombongkan didepan istri-istri Nabi dan biasa berkata,”Kamu dinikahkan kepada Allah oleh keluargamu, sedangkan saya dinikahkan (kepada Nabi) oleh Allah di surga ke tujuh.” Dan Thabit mengucapkan, “Ayat ini-Tetapi(O Muhammad) kamu sembunyikan dalam hatimu yang Allah akan menyatakanNya, kamu takut akan orang-orang-(33:37) diturunkan dalam kaitannya dengan Zainab dan Zayd bin Haritha.” versi bahasa Inggrisnya: Narrated Anas: Zaid bin Haritha came to the Prophet complaining about his wife. The Prophet kept on saying (to him), "Be afraid of Allah and keep your wife." Aisha said, "If Allah’s Apostle were to conceal anything (of the Quran) he would have concealed this Verse." Zainab used to boast before the wives of the Prophet and used to say, "You were given in marriage by your families, while I was married (to the Prophet) by Allah from over seven Heavens." And Thabit recited, "The Verse:-- ‘But (O Muhammad) you did hide in your heart that which Allah was about to make manifest, you did fear the people,’ (33.37) was revealed in connection with Zainab and Zaid bin Haritha." Sahih Al-Bukhari, Volume 9, Book 93, Number 517 Dinarasikan oleh Anas bin Malik: Ayat Al-Hijab (jilbab) diturunkan dalam kaitannya dengan Zainab bint Jahsh. (Pada hari pernikahannya dengan dia) Nabi memberikan banquet pernikahn dengan roti dan daging; dan dia (Zainab) biasa menyombongkan didepan istri-istri Nabi yang lain dan biasa berkata,”Allah menikahkanku (kepada Nabi) di surga.” versi bahasa Inggrisnya: Narrated Anas bin Malik: The Verse of Al-Hijab (veiling of women) was revealed in connection with Zainab bint Jahsh. (On the day of her marriage with him) the Prophet gave a wedding banquet with bread and meat; and she used to boast before other wives of the Prophet and used to say, "Allah married me (to the Prophet) in the Heavens." Sahih Muslim, Book 008, Number 3330 Anas melaporkan:Ketika Idda Zainab berkahir, Rasul Allah berkata kepada Zayd untuk menyebutkan kepada dia tentang dia. Zayd pergi sampai dia bertemu Zainab dan dia sedang meragi/memuaikan tepungnya. Dia (Zaid) berkata: Ketika saya melihat dia, saya merasa dalam hati saya ada pikiran mendalam mengenai “kehebatannya”sehingga saya tidak berani melihat dia (semata-mat karena adanya kenyataan) bahwa Rasul Allah telah menyebut sesuatu tentang dia. Maka saya membalikkan badan..Dan saya membelakanginya, dan berkata:Zainab, Rasul Allah telah mengirim saya dengan pesan untukmu. Dia berkata:Saya tidak lakukan apapun sampai saya meminta ijin Allah. Maka dia (Zainab) berdiri ditempat sembahyangnya dan (ayat) Quran (mengenai pernikahannya) diturunkan, dan Rasul Allah datang kepada dia tanpa permisi… versi bahasa Inggrisnya: Anas (Allah be pleased with him) reported: When the ‘Iddah of Zainab was over, Allah's Messenger (may peace be upon him) said to Zaid to make a mention to her about him. Zaid went on until he came to her and she was fermenting her flour. He (Zaid) said: As I saw her I felt in my heart an idea of her greatness so much so that I could not see towards her (simply for the fact) that Allah's Messenger (may peace be upon him) had made a mention of her. So I turned my back towards her. And I turned upon my heels, and said: Zainab, Allah’s Messenger (may peace be upon him) has sent (me) with a message to you. She said: I do not do anything until I solicit the will of my Lord. So she stood at her place of worship and the (verse of) the Qur’an (pertaining to her marriage) was revealed, and Allah’s Messenger (may peace be upon him) came to her without permission… Perkawinan Nabi dengan Zainab, bekas istri anak angkatnya ini, menjadi pembicaraan orang-orang Yahudi dan arab waktu itu. Ayat-ayat tsb diturunkan untuk menjawab kritik itu dan bahwa apa yang dilakukan Nabi adalah sesuai ketetapan Allah. Ayat diatas menyatakan bahwa Nabi menyembunyikan dalam hatinya mengenai apa yang akan dinyatakan Allah. Pemahaman saya adalah bahwa bahkan sebelum perceraian Zainab dan Zaid terjadi, Nabi telah mengetahui ketetapan Allah yang akan menikahkan beliau dengan Zaid. Dari hadiths juga disebutkan bahwa Zainab biasa menyombongkan perkawinannya dengan Nabi dihadapan istri-istri Nabi yang lain bahwa Allah menikahkan dia dengan Nabi di “surga” Beberapa hal saya pertanyakan disini. Pertama adalah islam berdasarkan S33:4-5 diatas telah menghapus praktek adopsi yang biasa dilakukan orang-orang arab jaman dulu. Kedua, dalam S33:37 Allah menyatakan bahwa ayat ini diturunkan untuk muslim supaya pada waktu yang akan datang, tidak akan menjadi masalah jika seorang muslim ingin menikahi istri anak angkatnya. Untuk itu, Allah sendiri menikahkan Nabi dengan Zainab yang bekas istri Zayd, anak angkatnya. (Kalau praktek adopsi sudah tidak dikenal lagi, bukankah secara otomatis sudah tidak ada yang namanya anak angkat lagi? Bukankah dengan demikian ayat S33:37 mengenai ijin Allah bagi muslim untuk menikahi istri bekas anak angkatnya tidak ada maknanya lagi karena adopsi sudah dihapus? ). Dan kenapa Allah harus menghapus praktek adopsi? Bukankah untuk kasus-kasus tertentu, adopsi bisa dikatakan merupakan perbuatan yang mulia? Pernikahan Nabi dengan Aisha Bagaimana pernikahan Nabi dengan Aisha. Dari sahih Hadiths maupun biografi Nabi disebutkan bahwa Aisha masih anak-anak berumur 6th pada waktu Nabi menikahinya dan masuk kedalam rumah tangga Nabi pada waktu Aisha berumur 9th. Aisha adalah anak Abu bakr (sahabat dan kalifa 1). Beberapa hadiths berikut saya kutip untuk memberikan gambaran mengenai hal ini: Sahih Muslim Book 008, Number 3310: Aisha melaporkan: Rasul Allah menikahi saya ketika saya berumur 6 tahun dan dibawa hidup berumahatngga pada waktu saya berumur 9 tahun. versi bahasa Inggrisnya: 'A'isha (Allah be pleased with her) reported: Allah's Apostle (may peace be upon him) married me when I was six years old, and I was admitted to his house when I was nine years old. Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64 Dinarasikan oleh Aisha:bahwa Nabi menikahinya ketika dia berumur 6tahun dan berumahtangga ketika dia berumur 9tahun, dan kemudian dia hidup bersamanya selama 9tahun (sampai meninggalnya Nabi). versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Aisha: that the Prophet married her when she was six years old and he consummated his marriage when she was nine years old, and then she remained with him for nine years (i.e., till his death). Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65 Dinarasikan oleh Aisha: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berumur 6tahun dan berumahtangga ketika berumur 9tahun. Hishan berkata: Saya diberitahu bahwa Aisha hidup bersama Nabi selama 9 tahun (sampai meninggalnya Nabi). “apa yang kamu tahu tentang Quran (dengan hati)”. versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Aisha: that the Prophet married her when she was six years old and he consummated his marriage when she was nine years old. Hisham said: I have been informed that 'Aisha remained with the Prophet for nine years (i.e. till his death)." what you know of the Quran (by heart)' Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 88 Dinarasikan oleh Ursa: Nabi menulis (kontrak perkawinan) dengan Aisha ketika dia berumur 6tahun dan berumahtangga dengannya pada waktu dia berumur 9 tahun dan dia hidup bersamanya selama 9tahun (sampai meninggalnya Nabi) versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Ursa: The Prophet wrote the (marriage contract) with 'Aisha while she was six years old and consummated his marriage with her while she was nine years old and she remained with him for nine years (i.e. till his death). Beberapa Ulama mengatakan bahwa pernikahan ini semata-mata untuk kepentingan Islam. Yang jadi pertanyaan adalah mengenai usia Aisha yang masih anak-anak. Dalam Hadiths disebutkan bahwa Nabi meminta Abu Bakr untuk memberikan Aisha kepada Nabi untuk dinikahi. Abu Bakr bilang “Tapi saya suadaramu” Nabi menjawab: “Kamu adalah saudaraku dalam Islam dan Aisha halal untuk saya nikahi” Sahih Bukhari 7.18 Dinarasikan oleh Ursa: Nabi meminta Abu Bakr untuk menikahi Aisha. Abu Bakr berkata “Tetapi saya saudaramu.” Nabi berkata, “Kamu saudara saya dalam agama Allah dan kitabNya, tetapi dia (Aisha) secara hukum syah untuk saya nikahi” versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Ursa: The Prophet asked Abu Bakr for 'Aisha's hand in marriage. Abu Bakr said "But I am your brother." The Prophet said, "You are my brother in Allah's religion and His Book, but she (Aisha) is lawful for me to marry." Abu Bakr dan Nabi sudah seperti saudara sendiri. Abu Bakr juga menjadi salah satu orang paling awal yang memeluk Islam. Dalam hal ini Aisya sudah seperti keponakannya sendiri. Dalam hadiths berikut Nabi mengutarakan kepada Aisya bahwa dia telah diperlihatkan kepada Nabi dalam mimpi Nabi sebelum Nabi menikahinya dan Nabi menyatakan bahwa kalau hal itu dari Allah pasti terjadi. Sahih Bukhari 9.140 Dinarasikan oleh Aisha: Rasul Allah berkata kepadaku,”Kamu diperlihatkan kepadaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum saya menikahimu. Saya melihat malaikat menbawamu dalam balutan kain sutera, dan saya berkata kepadanya,”Bukalah (dia),” dan lihat, itu kamu. Saya berkata (kepada diri saya sendiri), “Jika itu dari Allah, maka itu pasti terjadi” Kemudian kamu diperlihatkan kepada saya, malaikat sedang membawamu dalam balutan kain sutera, dan saya berkata ,”Bukalah (dia),” dan lihat, itu kamu. Saya berkata (kepada diri saya sendiri), “Jika itu dari Allah, maka itu pasti terjadi” versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Aisha: Allah's Apostle said to me, "You were shown to me twice (in my dream) before I married you. I saw an angel carrying you in a silken piece of cloth, and I said to him, 'Uncover (her),' and behold, it was you. I said (to myself), 'If this is from Allah, then it must happen.' Then you were shown to me, the angel carrying you in a silken piece of cloth, and I said (to him), 'Uncover (her), and behold, it was you. I said (to myself), 'If this is from Allah, then it must happen.' " Beberapa hadiths berikut memberikan gambaran lebih detail mengenai usia Aisha pada saat Nabi menikahinya. Sahih Bukhari 5.236. Dinarasikan oleh ayah Hisham: Khadija meninggal tiga tahun sebelum Nabi pergi ke Medina. Dia tinggal 3 atau 2 tahun atau sekitar itu dan kemudian dai menikahi Aisha ketika dia berumur 6tahun, dia berumahtangga dengannya pada waktu dia berumur 9 tahun. versi bahasa Inggrisnya: Narrated Hisham's father: Khadija died three years before the Prophet departed to Medina. He stayed there for two years or so and then he married 'Aisha when she was a girl of six years of age, and he consumed that marriage when she was nine years old. Sahih Bukhari 5.234 Dinarasikan oleh Aisha: Nabi mengikat saya ketika saya berumur 6tahun. Kami pergi ke Medina dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin Khazraj. Kemudian saya jatuh sakit dan rambut saya rontok. Pada waktu kemudian, rambut saya tumbuh (lagi) dan ibuku, Um Ruman, datang kepadaku ketika saya sedang bermain ayunan dengan beberapa teman-teman perempuanku. Dia memanggil saya, dan saya menemuinya, tidak tahu apa yang dia ingin lakukan kepada saya. Dia menangkap saya dengan tangannya dan mendirikan saya di depan pintu rumah. Saya kehabisan napas saat itu, dan ketika kembali normal, dia mengambil air dan menyeka muka dan kepalaku. Kemudian dia membawa saya masuk ke rumah. Di dalam rumah itu saya melihat beberapa perempuan Ansari yang berkata,”Semoga bahagia dan Restu Allah dan semoga berhasil.” Kemudian dia menyerahkan saya pada mereka dan mereka menyiapkan saya (untuk pernikahan). Tanpa diduga Rasul Allah datang menemuiku sebelum tengah hari dan ibuku memberikan saya kepadanya, dan pada saat itu saya berumur 9 tahun. versi bahasa Inggrisnya: Narrated Aisha: The Prophet engaged me when I was a girl of six (years). We went to Medina and stayed at the home of Bani-al-Harith bin Khazraj. Then I got ill and my hair fell down. Later on my hair grew (again) and my mother, Um Ruman, came to me while I was playing in a swing with some of my girl friends. She called me, and I went to her, not knowing what she wanted to do to me. She caught me by the hand and made me stand at the door of the house. I was breathless then, and when my breathing became Allright, she took some water and rubbed my face and head with it. Then she took me into the house. There in the house I saw some Ansari women who said, "Best wishes and Allah's Blessing and a good luck." Then she entrusted me to them and they prepared me (for the marriage). Unexpectedly Allah's Apostle came to me in the forenoon and my mother handed me over to him, and at that time I was a girl of nine years of age. Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, juga Number 4916 and Number 4917 Dinarasikan oleh Aisya, Ummul Muminin: Rasul Allah menikahiku ketika saya berumur 7 atau 6 tahun. Ketika kami datang ke Median, beberapa perempuan datang, menurut versi Bishr: Umm Ruman (ibu Aisya) datang kepadaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka mengambil saya, mempersiapkan dan merias saya. Saya kemudian dibawa kepada Rasul Allah, dan dia hidup sebagai suami istri dengan saya ketika saya berumur 9 tahun. Dia menahan saya dipintu dan pecahlah tawa saya. versi bahasa Inggrisnya: Narrated Aisha, Ummul Mu'minin: The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) married me when I was seven or six. When we came to Medina, some women came. according to Bishr's version: Umm Ruman came to me when I was swinging. They took me, made me prepared and decorated me. I was then brought to the Apostle of Allah (peace_be_upon_him), and he took up cohabitation with me when I was nine. She halted me at the door, and I burst into laughter. Saya tahu bahwa apapun perbuatan Nabi, selalu ada justifikasinya. Beberapa kalangan bilang bahwa pernikahan semacam ini adalah hal biasa. Masyarakat zaman itu tidak memprotes hal ini. Orang sekarang bisa bilang macam-macam, dan menganggap pernikahan semacam itu tidak pada tempatnya, “Bagaimana mungkin Nabi yang sudah berusia diatas 51th mau menikah dengan anak-anak 6th (9th)? Bagaimana mungkin Nabi yang sudah berusia, menikah dengan Aisha yang waktu itu masih mainan ayunan? Dan juga seperti Zainab, Aisha telah diperlihatkan kepada Nabi dalam mimpi sebelum Nabi menikahinya dan waktu itu Nabi berkata bahwa kalau itu ketetapan Allah pasti terjadi. Terserah bagaimana kita memahaminya. Yang saya tahu bagi orang muslim hal ini tidak jadi masalah. Seperti yang saya sampaikan, apapun yang dilakukan Nabi adalah baik. Nabi adalah panutan umat. Kita tidak boleh menilai Nabi berdasarkan kriteria kita sendiri, berdasarkan hati kita. Tapi bukankah itu yang terjadi terhadap semua pemeluk agama dan aliran kepercayaan? Di zaman modern sekarangpun hal ini masih terjadi. Di Bandung kita pernah dengar orang yang mengaku utusan Tuhan dan para pengikutnya mempercayai apapun yang dia sampaikan maupun yang dia minta. Bahkan untuk memberikan anaknya sendiri untuk dinikahi walaupun misalnya tahu bahwa itu tidak normal. Atau di Jepang misalnya ada orang pemimpin aliran kepercayaan yang meminta pengikutnya untuk bunuh diri dan mereka dengan senang hati melakukannya. Kita bertanya-tanya: Bagamana mungkin bisa terjadi? Kita sebagai orang Muslim yang tidak percaya mereka, dengan mudah bilang bahwa mereka keliru, pikiran dan hati mereka buta. Apa dasarnya kita bilang begitu? Iman kita pada Islam atau akal dan hati kita yang mengatakan itu? Atau kedua-duanya? Para pengikut aliran semacam itu (yang sebagai muslim kita tidak percaya) juga mempunyai semua pembenaran akan keyakinannya itu. Salah menurut pandangan kita benar menurut mereka. Itulah Iman. Pernikahan Nabi dengan Juwairiyah Setelah Zainab bint Jash, Nabi menikah dengan Juwairiyah. Dia adalah anak al-Harith, pemimpin Bani Al-Mustaliq (arab yahudi). Dia merupakan tawanan muslim setelah bani al-Mustaliq jatuh ketangan pasukan muslim pada th-6 AH. Pada waktu pembagian booty (rampasan perang), Juwairiyah diberikan ke seorang serdadu muslim yang bernama Thabit bin Qais bin Shammas. Thabit meminta tebusan untuk pembebasan Juwairiyah tapi harga yang diminta dianggap terlalu tinggi bagi Juwairiyah. Juwairiyah akhirnya menemui Nabi untuk meminta bantuan supaya harga tebusannya diturunkan. Yang terjadi kemudian adalah seperti yang diceritakan Aisya (istri Nabi) “segera setelah saya melihat wanita cantik ini dibawa menemui Nabi, saya kuatir karena saya tahu bahwa Nabi akan melihat dia seperti saya melihat dia”. Begitu Juwairiyah bertemu Nabi, dia minta bantuan Nabi mengenai harga tebusan untuk pembebasannya, Nabi bilang “Apakah kamu mau yang lebih baik dari itu ? Saya akan membayar tebusanmu dan menikahimu”. Mendengar ini Juwairiyah setuju. Dari beberapa sumber juga disebutkan bahwa Nabi membebaskan 100 tawanan lain sebagai kompensasi atas pernikahan Nabi dengan Juwairiya. Bani al-Mustaliq adalah arab Yahudi yang makmur. Mereka tinggal dipinggiran luar kota Medina. Mereka dianggap musuh Islam. Nabi menyerang mereka setelah mendengar dan memastikan kabar bahwa Al-Harith (ayah Juwairiyah) telah memobilisasi orang-orangnya, bersama beberapa orang arab, untuk menyerang Medina. Nabi menyerang bani al-Mustaliq secara mendadak pada waktu mereka tidak waspada dan unta-unta mereka sedang diberi minum. Berikut cuplikan dari Hadiths Bukhari mengenai serangan muslim ke bani al-Mustaliq: Bukhari Volume 3, Book 46, Number 717: Dinarasikan oleh Ibn Aun: Saya menulis surat kepada Nafi dan Nafi menulis menjawab surat saya tsb bahwa Nabi secara mendadak menyerang Bani Mustaliq tanpa pemberitahuan dahulu ketika mereka tidak waspada dan unta-unta mereka sedang diberi minum. Para petarung mereka dibunuh dan perempuan dan anak-anak mereka ditawan; Nabi memperoleh Juwairiya pada hari itu. Nafi berkata bahwa Ibn Umar telah mengatakan kepadanya cerita itu dan bahwa Ibn Umar ada dalam pasukan itu.” versi bahasa Inggrisnya: "Narrated Ibn Aun: I wrote a letter to Nafi and Nafi wrote in reply to my letter that the Prophet had suddenly attacked Bani Mustaliq without warning while they were heedless and their cattle were being watered at the places of water. Their fighting men were killed and their women and children were taken as captives; the Prophet got Juwairiya on that day. Nafi said that Ibn 'Umar had told him the above narration and that Ibn 'Umar was in that army.” (Cerita yang sama dinyatakan dalam Bukhari Book 019, Number 4292.) Saya sulit untuk bisa memahami pernikahan Nabi dengan Juwairiya ini. Setelah bani al-Mustaliq dikalahkan, semua tawanan dan kekayaan mereka diambil muslim dan dibagikan ke Nabi dan pasukan muslim. Tawanan ini umumnya dijadikan budak seperti kebiasaan waktu itu. Allah dalam Quran membenarkan kebiasaan ini dengan membagikan booty kepada Nabi dan pasukannya (lebih jauh saya tulis dibawah). Dalam pemahaman saya, Nabi dan muslim pada waktu itu boleh menyerang siapapun yang dianggap musuh, yang menyebarkan fitnah dan merintangi perkembangan Islam, dan merampas harta kekakayaannya dan menjadikan tawanan sebagai budak (dan budak perempuan sebagai pemuas nafsu pasukan muslim) Seperti saya sampaikan semua tindakan Nabi selalu ada justifikasinya dan tidak ada yang salah. Kita tidak bisa menilainya apalagi dengan ukuran sekarang. Semua itu adalah untuk perkembangan Islam. Nabi se-olah-olah “terpaksa” melakukan itu. Pilihannya “diserang dan kalah” atau “menyerang dan menang”. Tentu saya bisa paham kalau kita bicara dalam konteks pemimpin perang atau raja-raja dan bukan dalam konteks Nabi.

KEHIDUPAN KELUARGA NABI Aa Gym dalam khotbahnya menyatakan hal berikut: ALLOH SWT menjelaskan dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya Rasul ALLOH itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui ALLOH di hari kemudian dan yang mengingati ALLOH sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab [33]: 21). Seakan ayat ini menyatakan bahwa tidak usah kita melakukan apapun kecuali ada contohnya dari Rasulullah. Ketika misalnya, rumah tangga keluarga kita berantakan, maka solusi terbaiknya adalah dengan mencontoh Rasul dalam mengemudikan bahtera rumah tangganya. Subhanallah, siapapun yang mampunyai referensi Rasulullah dalam perilaku sehari-harinya, maka hidupnya seperti seorang yang punya katalog yang sangat mudah di akses, segalanya serba tertuntun. Sepeninggal Khadijah (istri pertama Nabi), Nabi menikah lagi dengan banyak istri. Antara usia 50th~58th, Nabi menikahi paling tidak 7 istri. Usia istri Nabi bervariasi antara 6th (Aisha, dinikahi dalam umur 6th tapi baru berumahtangga dengan Nabi dalam usia 9th) sampai dengan 50th. Pada usia 59th, Nabi masih menikah lagi paling sedikut dengan 4 istri lagi yang usianya antara 17th (Safiyah) s/d 36th (Maimunah). Catatan istri Nabi bervariasi. Buku-buku biografi Nabi paling awal (Ibn. Ishaq, Tabari) menyebutkan jauh lebih banyak dari pada yang disebutkan dalam biografi yang ditulis penulis-penulis modern. Berikut saya kutip/terjemahkan dari “The Sealed Nectar” (oleh Saif-ur-Rahman al-Mubarakpuri; tersedia online) 1. Khadijah Bint Khuwailid: Menikah di Mekah sebelum Hijra. Nabi berusia 25th dan Khadijah (janda) 40th. Merupakan istri nabi satu-satunya sampai Khadijah meninggal. Dari Khadijah, Nabi memiliki anak perempuan dan laki-laki. Semua anak laki-lakinya meninggal waktu masih kecil. Anak perempuannya bernama: Zainab, Ruqaiya, Umm Kulthum dan Fatimah. Zainab menikah dengan sepupunya bernama Abu Al-‘As bin Al-Rabi‘ (sebelum hijra). Ruqaiya dan Umm Kulthum keduanya menikah dengan ‘Uthman bin ‘Affan (sahabat nabi, kalifa ke 3) (Umm Kulthum menggantikan Ruqaiya setelah kakaknya meninggal). Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Talib (jadi Ali sepupu Nabi) pada periode anatra perang Badr dan Uhud. Anak-anak Ali/Fatimah adalah Al-Hasan, Al-Husain, Zainab and Umm Kulthum. 2. Sawdah bint Zam‘a (Janda): Dinikahi dibulan shawal pada tahun kesepeluh masa kenabian Muhammad (berarti kurang lebih usia nabi 50th), beberapa hari setelah Khadijah meninggal. 3. ‘Aishah bint Abu Bakr (Abu Bakr adalah sahabat Nabi dan merupkana kalifa 1): Dinikahi pada tahun kesepuluh masa kenabian nabi, satu tahun setelah pernikahannya dengan Sawdah (usia Nabi +/- 51th), dan +/- 2th 5 bulan sebelum Hijra. Pada saat itu Aisha berusia 6th, dan baru masuk kedalam rumah tangga Nabi pada usia 9th, +/- 7bulan setelah hijra (usia Nabi 53th) di Medina. Aisha satu-satunya perawan yang dinikahi Nabi dan istri yang paling dicintai Nabi. 4. Hafsah bint ‘Umar bin Al-Khattab (Umar sahabat Nabi, kalifa 2): Janda dari Khunais bin Hudhafa As-Sahmi (meinggal dalam perang Uhud). Dinikahi Nabi pada tahun ke-3 AH (usia Nabi +/- 55th). 5. Zainab bint Khuzaimah: Dia berasal dari bani Bani Hilal bin ‘Amir bin Sa‘sa‘a. Zainab adalah janda dari Abdullah bin Jahsh, yang meninggal dalam perang Uhud. Dinikahi Nabi pada tahun ke-4 AH (Usia Nabi 56th). Zainab meninggal 3~4 bulan setelah pernikahnnya dengan Nabi. 6. Umm Salamah Hind bint Abi Omaiyah: Janda Abu Salamah yang meninggal di Jumada Al-Akhir, pada th ke-4 AH (Usia Nabi 56th). Dinikahi Nabi pada tahun yang sama. 7. Zainab bint Jahsh bin Riyab: Dia dari Bani Asad bin Khuzaimah dan adalah sepupu Nabi. Dia sebelumnya menikah dengan anak angkat nabi yang bernama Zaid bin Haritha. Dinikahi Nabi pada tahun ke 5 AH (usia nabi +/-57th) 8. Juwairiyah bint Al-Harith: Al-Harith adalah pemimpin Bani Al-Mustaliq dari Khuza‘ah. Juwairiyah merupakan tawanan dari “booty” yang jatuh ketangan Muslim dari Bani Al-Mustaliq. Juwairiyah tadinya bagian “booty” dari Thabit bin Qais bin Shammas’. Nabi membebaskannya dan menikahinya pada tahun ke 6 AH. (usia nabi +/- 58th). 9. Umm Habibah: anak dari Abu Sufyan dan janda dari Ubaidullah bin Jahsh. Dinikahi Nabi pada tahun ke 7 AH (Usia Nabi +/- 59th). 10. Safiyah bint Huyai bin Akhtab: Yahudi, merupakan booty yang jatuh ketangan muslim dari perang Khaibar. Nabi membebaskannya dan menikahinya pada tahun ke-7 AH. (Usia Nabi 59th). 11. Maimunah bint Al-Harith: Anak Al-Harith dan saudara Umm Al-Fadl Lubabah bint Al-Harith. Dinikahi Nabi setelah umrah pada th-7 AH. (usia nabi 59th). Diatas adalah kesebelas istri Nabi. Dua meninggal lebih dulu dari Nabi (Khadijah dan Zainab bint Khuzaimah). Sembilan yang lain masih hidup sewaktu Nabi meninggal. Adu dua istri lagi yang dinikahi Nabi tapi tidak masuk dalam rumah tangga Nabi yaitu satu dari Bani Kilab dan satunya lagi dari Bani Kindah yang bernama Al-Jauniyah. Disamping istri-istri tersebut, Nabi juga memiliki dua “Concubines” (wanita simpanan). Yang pertama adalah Mariyah (orang kristen dari Mesir) yang merupakan hadiah dari Al-Muqauqis, pejabat/penguasa Mesir. Dengan Mariyah, Nabi memperoleh anak laki-laki bernama Ibrahim yang meninggal pada saat masih kecil di Medina pada th 10AH. Yang kedua adalah Raihanah bint Zaid An-Nadriyah atau Quraziyah, tawanan dari Bani Quraiza (yahudi). Beberapa penulis menyebutkan bahwa ddia adalah salah satu istri Nabi. Abu ‘Ubaidah menyebutkan Nabi memiliki dua lagi Concubines, salah satu adalah tawanan perang dan satunya lagi budak wanita pemberian Zainab bint Jahsh. [Za'd Al-Ma'ad 1/29]. Kenapa Nabi memiliki begitu banyak istri bahkan simpanan? Kalau kita membaca Al-Tabari, istri-istri dan simpanan Nabi jauh lebih banyak dari itu. Bagaimana ulama menjelaskan ini. Semua ada justifikasinya. Intinya yang saya tahu adalah semua itu dilakukan untuk kepentingan penyebaran Islam bukan karena nafsu seksual. Apakah demikian? Bagaimana ceritanya? Bagaimana sikap Nabi terhadap istri-istrinya? Quran membatasi muslim untuk memiliki istri maksimal 4 orang. (S. 4:3, diturunkan di Medinah +/- th-3 AH, setelah perang UHUD, yang menewaskan 70 orang muslim) Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Dalam beberapa hadiths diceritakan bahwa setelah turunnya ayat itu, Nabi memerintahkan orang muslim yang memiliki lebih dari 4 istri untuk menceraikan kelebihannya. Bagaimana dengan Nabi sendiri. Pada waktu Nabi menikahi Zainab bekas istri anak angkatnya, Nabi sudah memiliki istri 4 orang (semestinya 6 orang, yang dua sudah meninggal yaitu Khadijah dan Zainab bint Khuzaimah). Padahal Quran S 4:3 membatasi jumlah istri maksimal-4. Lebih-lebih, Zainab adalah bekas istri anak angkat Nabi yang bernama Zaid. Pada waktu itu, orang arab memperlakukan anak angkat seperti anak kandungnya sendiri, yang memperoleh hak (harta warisan, nama dsb) dan kewajiban sama dengan anak kandung. Menikahi bekas istri anaknya (meskipun anak angkat) dianggap sebagai tabu. Jadi ada beberapa isu disini. Pertama mengenai jumlah istri, kedua mengenai masalah anak angkat dan ketiga menikahi istri bekas anak angkatnya. Pernikahan Nabi dengan Zainab bint Jash Surat 33 (Al Ahzab, diturunkan di Medinah pada tahun 5AH), menghapus praktek adopsi anak bagi orang islam dan memberikan kebebasan kepada Nabi mengenai jumlah istri yang boleh dimiliki Nabi. (S 33:4) Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (5) Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hal ini diturunkan berkaitan dengan Zaid bin Harithah, bekas budak Nabi yang sudah dibebaskan dan diangkat anak oleh Nabi sebelum masa kenabian. Dan saat itu Zaid biasa dipanggil dengan sebutan Zaid Bin Muhammad. Allah ingin menghapus praktek ini yang biasa dilakukan orang arab jaman itu. Dengan ayat ini praktek adopsi jaman itu dihapus dalam Islam. Dan juga ayat berikut: (S 33:40) Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dengan dirurunkannya ayat ini, tidak boleh lagi memanggil Zaid dengan nama Zaid bin Muhammad karena Nabi Muhammad bukan ayahnya. Sejak turunnya ayat itu Zaid dipanggil Zaid bin Harithah. Kemudian dalam ayat berikut Allah menetapkan pernikahan Nabi dengan Zainab bekas istri anak angkatnya (S 33:37) Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Kemudian ayat berikut memberikan pengecualian kepada Nabi berkaitan dengan kehidupan perkawinannya yang tidak diberikan kepada umat islam, termasuk diantaranya pembebasan kepada Nabi untuk memiliki istri lebih dari 4. (S 33:50) Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (51) Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (52) Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. Berikut lebih jauh cerita mengenai perkawinan Zaid dan Zainab yang saya kutip dari sumber Islam: Quran S 33:37 menyatakan ketetapan Allah mengenai perkawinan Nabi dan Zainab bekas anak angkatnya dengan alasan supaya Nabi bisa memberikan contoh kepada orang mukmin untuk bisa mengawini bekas istri anak-anak angkat mereka. (S 33:37) Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Berikut berdasarkan tafsir Ibn Kathir: Disini Allah mengatakan apa yang dikatakan Nabi kepada Zaid. <"Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah"> Ini perkataan Nabi kepada Zaid untuk tidak menceraikan Zainab. Kemudian Allah mengatakan: Allah mengingatkan Nabi untuk tidak menyembunyikan didalam hatinya apa yang Allah akan menyatakannya dan supaya Nabi tidak takut kepada manusia karena Allah yang lebih berhak ditakuti. Ibn jarir menarasikan bahwa Aisha berkata “Jika Muhammad perlu untuk menyembunyikan sesuatu yang diturunkan kepada dia dalam kitab Allah, dia pasti akan menyembunyikan ayat berikut: Tafsir Jalalain (terjemahan Indonesia, dijual di dalam CD di Jakarta): (Dan ketika) ingatlah ketika (kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya) yakni nikmat Islam (dan kamu juga telah memberi nikmat kepadanya,) dengan memerdekakannya, yang dimaksud adalah Zaid bin Haritsah, dahulu pada zaman jahiliah dia adalah tawanan kemudian ia dibeli oleh Rasulullah, lalu dimerdekakan dan diangkat menjadi anak angkatnya sendiri ("Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah") dalam hal menalaknya (sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya) akan membeberkannya, yaitu perasaan cinta kepada Zainab binti Jahsy, dan kamu berharap seandainya Zaid menalaknya, maka kamu akan menikahinya (dan kamu takut kepada manusia) bila mereka mengatakan bahwa dia telah menikahi bekas istri anaknya (sedangkan Allahlah yang lebih berhak untuk kamu takuti) dalam segala hal dan dalam masalah menikahinya, dan janganlah kamu takuti perkataan manusia. Kemudian Zaid menalak istrinya dan setelah idahnya habis, Allah swt. berfirman, ("Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya) yakni kebutuhannya (Kami kawinkan kamu dengan dia) maka Nabi saw. langsung mengawininya tanpa meminta persetujuannya dulu, kemudian beliau membuat walimah buat kaum Muslimin dengan hidangan roti dan daging yang mengenyangkan mereka (supaya tidak ada keberatan bagi orang Mukmin untuk mengawini istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu) apa yang telah dipastikan oleh-Nya (pasti terjadi.") Al-Tabari (The History of Al-Tabari: The Victory of Islam, diterjemahkan oleh Michael Fishbein [State University of New York Press, Albany, 1997], Volume VIII) memberikan latar belakang sejarah berkaitan dengan S33:37 sbb: Rasul Allah datang kerumah Zayd b. Harithah (Zayd biasa dipanggil Zayd b. Muhammad) Mungkin Rasul Allah tidak bertemu dengannya saat itu, sehingga bertanya,”Dimana Zaid?” Dia datang ke rumahnya untuk mencarinya tetapi tidak menemukan Zayd. Zainab bt. Jash, istri Zayd, bangkit menemuinya. Karena dia hanya berpakaian seadanya, Rasul Allah memalingkan muka darinya. Dia (Zainab) berkata:”Dia tidak ada disini, Rasul Allah. Silahkan masuk, Anda sudah anda sudah sedekat ayah dan ibu saya!”. Rasul Allah menolak masuk. Zainab berpakian secara terburu-buru pada waktu dia diberitahu bahwa “Rasul Allah ada di depan pintu.”Dia melompat dengan tergesa-gesa dan membuat terkesan Rasul Allah, sehingga dia berbalik sambil mengucapkan sesautu yang sulit agak susah dimengerti. Meskipun demikian, dia kelihatannya mengatakan : “Kemuliaan untuk Allah! Kemuliaan untuk Allah, yang menyebabkan hati berpaling!” Pada waktu Zaid pulang ke rumah, istrinya mengatakan padanya bahwa Rasul Allah tadi datang kerumah. Zaid berkata,”Mengapa kamu tidak memintanya masuk?” Dia menjawab,”Saya memintanya tapi dia menolak”. “Apakah kamu mendengar dia mengatakan sesuatu?” dia bertanya. Zainab menjawab,”Sewaktu dia berbalik pergi, saya mendengar dia berkata:”Kemuliaan untuk Allah! Kemuliaan untuk Allah, yang menyebabkan hati berpaling!” Maka Zayd pergi, dan setelah bertemu Nabi, dia berkata:”Rasul Allah, saya mendengar anda datang ke rumah saya. Mengapa anda tidak masuk, anda sudah sedekat ayah dan ibu saya? Rasul Allah, mungkin Zainab telah menarik hati anda, maka jika begitu saya akanberpisah dari dia.” Zayd tidak tahu lagi bagaimana cara mendekati Zainab setalah hari itu. Dia akan datang kepada Nabi dan mengatakan hal ini, tetapi Rasul Allah akan mengatakan kepada dia, “Tahan istrimu.” Zaid memisahkan diri dari dia dan meninggalkannya, dan dia menjadi bebas. Pada waktu Rasul Allah bercakap-cakap dengan Aisha, dia menjadi pingsan. Pada waktu Rasul Allah sadar, dia tersenyum dan berkata,”Siapa yang akan pergi kepada Zainab untuk memberitahu dai kabar baik, katakan bahwa Allah telah menikahkan dia kepada saya?” Kemudian Rasul Allah mengucapkan:”Dan ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu”-dan seluruh bagiannya. Menurut Aisha, yang berkata:”Saya menjadi tidak enak karena apa yang kami dengar tentang kecantikannya dan hal lainnya, hal-hal hebat dan menakjubkan-yang telah Allah lakukan untuk dia dengan memberikannya dalam pernikahan. Saya katakan dia akan menyombongkan hal ini kepada kami.” versi bahasa Inggrisnya: The Messenger of God came to the house of Zayd b. Harithah. (Zayd was always called Zayd b. Muhammad.) Perhaps the Messenger of God missed him at that moment, so as to ask, "Where is Zayd?" He came to his residence to look for him but did not find him. Zaynab bt. Jash, Zayd’s wife, rose to meet him. Because she was dressed only in a shift, the Messenger of God turned away from her. She said: "He is not here, Messenger of God. Come in, you who are as dear to me as my father and mother!" The Messenger of God refused to enter. Zaynab had dressed in haste when she was told "the Messenger of God is at the door." She jumped up in haste and excited the admiration of the Messenger of God, so that he turned away murmuring something that could scarcely be understood. However, he did say overtly: "Glory be to God the Almighty! Glory be to God, who causes the hearts to turn!" When Zayd came home, his wife told him that the Messenger of God had come to his house. Zayd said, "Why didn't you ask him to come in?" He replied, "I asked him, but he refused." "Did you hear him say anything?" he asked. She replied, "As he turned away, I heard him say: ‘Glory be to God the Almighty! Glory be to God, who causes hearts to turn!’" So Zayd left, and having come to the Messenger of God, he said: "Messenger of God, I have heard that you came to my house. Why didn’t you go in, you who are as dear to me as my father and mother? Messenger of God, perhaps Zaynab has excited your admiration, and so I will separate myself from her." Zayd could find no possible way to [approach] her after that day. He would come to the Messenger of God and tell him so, but the Messenger of God would say to him, "Keep your wife." Zayd separated from her and left her, and she became free. While the Messenger of God was talking with 'A'isha, a fainting overcame him. When he was released from it, he smiled and said, "Who will go to Zaynab to tell her the good news, saying that God has married her to me?" Then the Messenger of God recited: "And when you said unto him on whom God has conferred favor and you have conferred favor, ‘Keep your wife to yourself .’"- and the entire passage. According to 'A'isha, who said: "I became very uneasy because of what we heard about her beauty and another thing, the greatest and loftiest of matters - what God had done for her by giving her in marriage. I said she would boast of it over us." Beberapa kutipan hadiths berikut memberikan informasi tambahan mengenai hal ini: Sahih Al-Bukhari, Volume 9, Book 93, Number 516 Dinarasikan oleh Anas: Zaid bin Haritha datang kepada Nabi mengeluh tentang istrinya. Nabi terus berkata (kepadanya),”Takutlah kepada Allah dan tahanlah istrimu.” Aisha berkata,”Jika Rasul Allah perlu menyembunyikan sesuatu (dari Quran) dia pasti akan menyembunyikan hal ini,”Zainab biasa menyombongkan didepan istri-istri Nabi dan biasa berkata,”Kamu dinikahkan kepada Allah oleh keluargamu, sedangkan saya dinikahkan (kepada Nabi) oleh Allah di surga ke tujuh.” Dan Thabit mengucapkan, “Ayat ini-Tetapi(O Muhammad) kamu sembunyikan dalam hatimu yang Allah akan menyatakanNya, kamu takut akan orang-orang-(33:37) diturunkan dalam kaitannya dengan Zainab dan Zayd bin Haritha.” versi bahasa Inggrisnya: Narrated Anas: Zaid bin Haritha came to the Prophet complaining about his wife. The Prophet kept on saying (to him), "Be afraid of Allah and keep your wife." Aisha said, "If Allah’s Apostle were to conceal anything (of the Quran) he would have concealed this Verse." Zainab used to boast before the wives of the Prophet and used to say, "You were given in marriage by your families, while I was married (to the Prophet) by Allah from over seven Heavens." And Thabit recited, "The Verse:-- ‘But (O Muhammad) you did hide in your heart that which Allah was about to make manifest, you did fear the people,’ (33.37) was revealed in connection with Zainab and Zaid bin Haritha." Sahih Al-Bukhari, Volume 9, Book 93, Number 517 Dinarasikan oleh Anas bin Malik: Ayat Al-Hijab (jilbab) diturunkan dalam kaitannya dengan Zainab bint Jahsh. (Pada hari pernikahannya dengan dia) Nabi memberikan banquet pernikahn dengan roti dan daging; dan dia (Zainab) biasa menyombongkan didepan istri-istri Nabi yang lain dan biasa berkata,”Allah menikahkanku (kepada Nabi) di surga.” versi bahasa Inggrisnya: Narrated Anas bin Malik: The Verse of Al-Hijab (veiling of women) was revealed in connection with Zainab bint Jahsh. (On the day of her marriage with him) the Prophet gave a wedding banquet with bread and meat; and she used to boast before other wives of the Prophet and used to say, "Allah married me (to the Prophet) in the Heavens." Sahih Muslim, Book 008, Number 3330 Anas melaporkan:Ketika Idda Zainab berkahir, Rasul Allah berkata kepada Zayd untuk menyebutkan kepada dia tentang dia. Zayd pergi sampai dia bertemu Zainab dan dia sedang meragi/memuaikan tepungnya. Dia (Zaid) berkata: Ketika saya melihat dia, saya merasa dalam hati saya ada pikiran mendalam mengenai “kehebatannya”sehingga saya tidak berani melihat dia (semata-mat karena adanya kenyataan) bahwa Rasul Allah telah menyebut sesuatu tentang dia. Maka saya membalikkan badan..Dan saya membelakanginya, dan berkata:Zainab, Rasul Allah telah mengirim saya dengan pesan untukmu. Dia berkata:Saya tidak lakukan apapun sampai saya meminta ijin Allah. Maka dia (Zainab) berdiri ditempat sembahyangnya dan (ayat) Quran (mengenai pernikahannya) diturunkan, dan Rasul Allah datang kepada dia tanpa permisi… versi bahasa Inggrisnya: Anas (Allah be pleased with him) reported: When the ‘Iddah of Zainab was over, Allah's Messenger (may peace be upon him) said to Zaid to make a mention to her about him. Zaid went on until he came to her and she was fermenting her flour. He (Zaid) said: As I saw her I felt in my heart an idea of her greatness so much so that I could not see towards her (simply for the fact) that Allah's Messenger (may peace be upon him) had made a mention of her. So I turned my back towards her. And I turned upon my heels, and said: Zainab, Allah’s Messenger (may peace be upon him) has sent (me) with a message to you. She said: I do not do anything until I solicit the will of my Lord. So she stood at her place of worship and the (verse of) the Qur’an (pertaining to her marriage) was revealed, and Allah’s Messenger (may peace be upon him) came to her without permission… Perkawinan Nabi dengan Zainab, bekas istri anak angkatnya ini, menjadi pembicaraan orang-orang Yahudi dan arab waktu itu. Ayat-ayat tsb diturunkan untuk menjawab kritik itu dan bahwa apa yang dilakukan Nabi adalah sesuai ketetapan Allah. Ayat diatas menyatakan bahwa Nabi menyembunyikan dalam hatinya mengenai apa yang akan dinyatakan Allah. Pemahaman saya adalah bahwa bahkan sebelum perceraian Zainab dan Zaid terjadi, Nabi telah mengetahui ketetapan Allah yang akan menikahkan beliau dengan Zaid. Dari hadiths juga disebutkan bahwa Zainab biasa menyombongkan perkawinannya dengan Nabi dihadapan istri-istri Nabi yang lain bahwa Allah menikahkan dia dengan Nabi di “surga” Beberapa hal saya pertanyakan disini. Pertama adalah islam berdasarkan S33:4-5 diatas telah menghapus praktek adopsi yang biasa dilakukan orang-orang arab jaman dulu. Kedua, dalam S33:37 Allah menyatakan bahwa ayat ini diturunkan untuk muslim supaya pada waktu yang akan datang, tidak akan menjadi masalah jika seorang muslim ingin menikahi istri anak angkatnya. Untuk itu, Allah sendiri menikahkan Nabi dengan Zainab yang bekas istri Zayd, anak angkatnya. (Kalau praktek adopsi sudah tidak dikenal lagi, bukankah secara otomatis sudah tidak ada yang namanya anak angkat lagi? Bukankah dengan demikian ayat S33:37 mengenai ijin Allah bagi muslim untuk menikahi istri bekas anak angkatnya tidak ada maknanya lagi karena adopsi sudah dihapus? ). Dan kenapa Allah harus menghapus praktek adopsi? Bukankah untuk kasus-kasus tertentu, adopsi bisa dikatakan merupakan perbuatan yang mulia? Pernikahan Nabi dengan Aisha Bagaimana pernikahan Nabi dengan Aisha. Dari sahih Hadiths maupun biografi Nabi disebutkan bahwa Aisha masih anak-anak berumur 6th pada waktu Nabi menikahinya dan masuk kedalam rumah tangga Nabi pada waktu Aisha berumur 9th. Aisha adalah anak Abu bakr (sahabat dan kalifa 1). Beberapa hadiths berikut saya kutip untuk memberikan gambaran mengenai hal ini: Sahih Muslim Book 008, Number 3310: Aisha melaporkan: Rasul Allah menikahi saya ketika saya berumur 6 tahun dan dibawa hidup berumahatngga pada waktu saya berumur 9 tahun. versi bahasa Inggrisnya: 'A'isha (Allah be pleased with her) reported: Allah's Apostle (may peace be upon him) married me when I was six years old, and I was admitted to his house when I was nine years old. Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64 Dinarasikan oleh Aisha:bahwa Nabi menikahinya ketika dia berumur 6tahun dan berumahtangga ketika dia berumur 9tahun, dan kemudian dia hidup bersamanya selama 9tahun (sampai meninggalnya Nabi). versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Aisha: that the Prophet married her when she was six years old and he consummated his marriage when she was nine years old, and then she remained with him for nine years (i.e., till his death). Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65 Dinarasikan oleh Aisha: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berumur 6tahun dan berumahtangga ketika berumur 9tahun. Hishan berkata: Saya diberitahu bahwa Aisha hidup bersama Nabi selama 9 tahun (sampai meninggalnya Nabi). “apa yang kamu tahu tentang Quran (dengan hati)”. versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Aisha: that the Prophet married her when she was six years old and he consummated his marriage when she was nine years old. Hisham said: I have been informed that 'Aisha remained with the Prophet for nine years (i.e. till his death)." what you know of the Quran (by heart)' Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 88 Dinarasikan oleh Ursa: Nabi menulis (kontrak perkawinan) dengan Aisha ketika dia berumur 6tahun dan berumahtangga dengannya pada waktu dia berumur 9 tahun dan dia hidup bersamanya selama 9tahun (sampai meninggalnya Nabi) versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Ursa: The Prophet wrote the (marriage contract) with 'Aisha while she was six years old and consummated his marriage with her while she was nine years old and she remained with him for nine years (i.e. till his death). Beberapa Ulama mengatakan bahwa pernikahan ini semata-mata untuk kepentingan Islam. Yang jadi pertanyaan adalah mengenai usia Aisha yang masih anak-anak. Dalam Hadiths disebutkan bahwa Nabi meminta Abu Bakr untuk memberikan Aisha kepada Nabi untuk dinikahi. Abu Bakr bilang “Tapi saya suadaramu” Nabi menjawab: “Kamu adalah saudaraku dalam Islam dan Aisha halal untuk saya nikahi” Sahih Bukhari 7.18 Dinarasikan oleh Ursa: Nabi meminta Abu Bakr untuk menikahi Aisha. Abu Bakr berkata “Tetapi saya saudaramu.” Nabi berkata, “Kamu saudara saya dalam agama Allah dan kitabNya, tetapi dia (Aisha) secara hukum syah untuk saya nikahi” versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Ursa: The Prophet asked Abu Bakr for 'Aisha's hand in marriage. Abu Bakr said "But I am your brother." The Prophet said, "You are my brother in Allah's religion and His Book, but she (Aisha) is lawful for me to marry." Abu Bakr dan Nabi sudah seperti saudara sendiri. Abu Bakr juga menjadi salah satu orang paling awal yang memeluk Islam. Dalam hal ini Aisya sudah seperti keponakannya sendiri. Dalam hadiths berikut Nabi mengutarakan kepada Aisya bahwa dia telah diperlihatkan kepada Nabi dalam mimpi Nabi sebelum Nabi menikahinya dan Nabi menyatakan bahwa kalau hal itu dari Allah pasti terjadi. Sahih Bukhari 9.140 Dinarasikan oleh Aisha: Rasul Allah berkata kepadaku,”Kamu diperlihatkan kepadaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum saya menikahimu. Saya melihat malaikat menbawamu dalam balutan kain sutera, dan saya berkata kepadanya,”Bukalah (dia),” dan lihat, itu kamu. Saya berkata (kepada diri saya sendiri), “Jika itu dari Allah, maka itu pasti terjadi” Kemudian kamu diperlihatkan kepada saya, malaikat sedang membawamu dalam balutan kain sutera, dan saya berkata ,”Bukalah (dia),” dan lihat, itu kamu. Saya berkata (kepada diri saya sendiri), “Jika itu dari Allah, maka itu pasti terjadi” versi bahasa Inggrisnya: Narrated 'Aisha: Allah's Apostle said to me, "You were shown to me twice (in my dream) before I married you. I saw an angel carrying you in a silken piece of cloth, and I said to him, 'Uncover (her),' and behold, it was you. I said (to myself), 'If this is from Allah, then it must happen.' Then you were shown to me, the angel carrying you in a silken piece of cloth, and I said (to him), 'Uncover (her), and behold, it was you. I said (to myself), 'If this is from Allah, then it must happen.' " Beberapa hadiths berikut memberikan gambaran lebih detail mengenai usia Aisha pada saat Nabi menikahinya. Sahih Bukhari 5.236. Dinarasikan oleh ayah Hisham: Khadija meninggal tiga tahun sebelum Nabi pergi ke Medina. Dia tinggal 3 atau 2 tahun atau sekitar itu dan kemudian dai menikahi Aisha ketika dia berumur 6tahun, dia berumahtangga dengannya pada waktu dia berumur 9 tahun. versi bahasa Inggrisnya: Narrated Hisham's father: Khadija died three years before the Prophet departed to Medina. He stayed there for two years or so and then he married 'Aisha when she was a girl of six years of age, and he consumed that marriage when she was nine years old. Sahih Bukhari 5.234 Dinarasikan oleh Aisha: Nabi mengikat saya ketika saya berumur 6tahun. Kami pergi ke Medina dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin Khazraj. Kemudian saya jatuh sakit dan rambut saya rontok. Pada waktu kemudian, rambut saya tumbuh (lagi) dan ibuku, Um Ruman, datang kepadaku ketika saya sedang bermain ayunan dengan beberapa teman-teman perempuanku. Dia memanggil saya, dan saya menemuinya, tidak tahu apa yang dia ingin lakukan kepada saya. Dia menangkap saya dengan tangannya dan mendirikan saya di depan pintu rumah. Saya kehabisan napas saat itu, dan ketika kembali normal, dia mengambil air dan menyeka muka dan kepalaku. Kemudian dia membawa saya masuk ke rumah. Di dalam rumah itu saya melihat beberapa perempuan Ansari yang berkata,”Semoga bahagia dan Restu Allah dan semoga berhasil.” Kemudian dia menyerahkan saya pada mereka dan mereka menyiapkan saya (untuk pernikahan). Tanpa diduga Rasul Allah datang menemuiku sebelum tengah hari dan ibuku memberikan saya kepadanya, dan pada saat itu saya berumur 9 tahun. versi bahasa Inggrisnya: Narrated Aisha: The Prophet engaged me when I was a girl of six (years). We went to Medina and stayed at the home of Bani-al-Harith bin Khazraj. Then I got ill and my hair fell down. Later on my hair grew (again) and my mother, Um Ruman, came to me while I was playing in a swing with some of my girl friends. She called me, and I went to her, not knowing what she wanted to do to me. She caught me by the hand and made me stand at the door of the house. I was breathless then, and when my breathing became Allright, she took some water and rubbed my face and head with it. Then she took me into the house. There in the house I saw some Ansari women who said, "Best wishes and Allah's Blessing and a good luck." Then she entrusted me to them and they prepared me (for the marriage). Unexpectedly Allah's Apostle came to me in the forenoon and my mother handed me over to him, and at that time I was a girl of nine years of age. Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, juga Number 4916 and Number 4917 Dinarasikan oleh Aisya, Ummul Muminin: Rasul Allah menikahiku ketika saya berumur 7 atau 6 tahun. Ketika kami datang ke Median, beberapa perempuan datang, menurut versi Bishr: Umm Ruman (ibu Aisya) datang kepadaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka mengambil saya, mempersiapkan dan merias saya. Saya kemudian dibawa kepada Rasul Allah, dan dia hidup sebagai suami istri dengan saya ketika saya berumur 9 tahun. Dia menahan saya dipintu dan pecahlah tawa saya. versi bahasa Inggrisnya: Narrated Aisha, Ummul Mu'minin: The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) married me when I was seven or six. When we came to Medina, some women came. according to Bishr's version: Umm Ruman came to me when I was swinging. They took me, made me prepared and decorated me. I was then brought to the Apostle of Allah (peace_be_upon_him), and he took up cohabitation with me when I was nine. She halted me at the door, and I burst into laughter. Saya tahu bahwa apapun perbuatan Nabi, selalu ada justifikasinya. Beberapa kalangan bilang bahwa pernikahan semacam ini adalah hal biasa. Masyarakat zaman itu tidak memprotes hal ini. Orang sekarang bisa bilang macam-macam, dan menganggap pernikahan semacam itu tidak pada tempatnya, “Bagaimana mungkin Nabi yang sudah berusia diatas 51th mau menikah dengan anak-anak 6th (9th)? Bagaimana mungkin Nabi yang sudah berusia, menikah dengan Aisha yang waktu itu masih mainan ayunan? Dan juga seperti Zainab, Aisha telah diperlihatkan kepada Nabi dalam mimpi sebelum Nabi menikahinya dan waktu itu Nabi berkata bahwa kalau itu ketetapan Allah pasti terjadi. Terserah bagaimana kita memahaminya. Yang saya tahu bagi orang muslim hal ini tidak jadi masalah. Seperti yang saya sampaikan, apapun yang dilakukan Nabi adalah baik. Nabi adalah panutan umat. Kita tidak boleh menilai Nabi berdasarkan kriteria kita sendiri, berdasarkan hati kita. Tapi bukankah itu yang terjadi terhadap semua pemeluk agama dan aliran kepercayaan? Di zaman modern sekarangpun hal ini masih terjadi. Di Bandung kita pernah dengar orang yang mengaku utusan Tuhan dan para pengikutnya mempercayai apapun yang dia sampaikan maupun yang dia minta. Bahkan untuk memberikan anaknya sendiri untuk dinikahi walaupun misalnya tahu bahwa itu tidak normal. Atau di Jepang misalnya ada orang pemimpin aliran kepercayaan yang meminta pengikutnya untuk bunuh diri dan mereka dengan senang hati melakukannya. Kita bertanya-tanya: Bagamana mungkin bisa terjadi? Kita sebagai orang Muslim yang tidak percaya mereka, dengan mudah bilang bahwa mereka keliru, pikiran dan hati mereka buta. Apa dasarnya kita bilang begitu? Iman kita pada Islam atau akal dan hati kita yang mengatakan itu? Atau kedua-duanya? Para pengikut aliran semacam itu (yang sebagai muslim kita tidak percaya) juga mempunyai semua pembenaran akan keyakinannya itu. Salah menurut pandangan kita benar menurut mereka. Itulah Iman. Pernikahan Nabi dengan Juwairiyah Setelah Zainab bint Jash, Nabi menikah dengan Juwairiyah. Dia adalah anak al-Harith, pemimpin Bani Al-Mustaliq (arab yahudi). Dia merupakan tawanan muslim setelah bani al-Mustaliq jatuh ketangan pasukan muslim pada th-6 AH. Pada waktu pembagian booty (rampasan perang), Juwairiyah diberikan ke seorang serdadu muslim yang bernama Thabit bin Qais bin Shammas. Thabit meminta tebusan untuk pembebasan Juwairiyah tapi harga yang diminta dianggap terlalu tinggi bagi Juwairiyah. Juwairiyah akhirnya menemui Nabi untuk meminta bantuan supaya harga tebusannya diturunkan. Yang terjadi kemudian adalah seperti yang diceritakan Aisya (istri Nabi) “segera setelah saya melihat wanita cantik ini dibawa menemui Nabi, saya kuatir karena saya tahu bahwa Nabi akan melihat dia seperti saya melihat dia”. Begitu Juwairiyah bertemu Nabi, dia minta bantuan Nabi mengenai harga tebusan untuk pembebasannya, Nabi bilang “Apakah kamu mau yang lebih baik dari itu ? Saya akan membayar tebusanmu dan menikahimu”. Mendengar ini Juwairiyah setuju. Dari beberapa sumber juga disebutkan bahwa Nabi membebaskan 100 tawanan lain sebagai kompensasi atas pernikahan Nabi dengan Juwairiya. Bani al-Mustaliq adalah arab Yahudi yang makmur. Mereka tinggal dipinggiran luar kota Medina. Mereka dianggap musuh Islam. Nabi menyerang mereka setelah mendengar dan memastikan kabar bahwa Al-Harith (ayah Juwairiyah) telah memobilisasi orang-orangnya, bersama beberapa orang arab, untuk menyerang Medina. Nabi menyerang bani al-Mustaliq secara mendadak pada waktu mereka tidak waspada dan unta-unta mereka sedang diberi minum. Berikut cuplikan dari Hadiths Bukhari mengenai serangan muslim ke bani al-Mustaliq: Bukhari Volume 3, Book 46, Number 717: Dinarasikan oleh Ibn Aun: Saya menulis surat kepada Nafi dan Nafi menulis menjawab surat saya tsb bahwa Nabi secara mendadak menyerang Bani Mustaliq tanpa pemberitahuan dahulu ketika mereka tidak waspada dan unta-unta mereka sedang diberi minum. Para petarung mereka dibunuh dan perempuan dan anak-anak mereka ditawan; Nabi memperoleh Juwairiya pada hari itu. Nafi berkata bahwa Ibn Umar telah mengatakan kepadanya cerita itu dan bahwa Ibn Umar ada dalam pasukan itu.” versi bahasa Inggrisnya: "Narrated Ibn Aun: I wrote a letter to Nafi and Nafi wrote in reply to my letter that the Prophet had suddenly attacked Bani Mustaliq without warning while they were heedless and their cattle were being watered at the places of water. Their fighting men were killed and their women and children were taken as captives; the Prophet got Juwairiya on that day. Nafi said that Ibn 'Umar had told him the above narration and that Ibn 'Umar was in that army.” (Cerita yang sama dinyatakan dalam Bukhari Book 019, Number 4292.) Saya sulit untuk bisa memahami pernikahan Nabi dengan Juwairiya ini. Setelah bani al-Mustaliq dikalahkan, semua tawanan dan kekayaan mereka diambil muslim dan dibagikan ke Nabi dan pasukan muslim. Tawanan ini umumnya dijadikan budak seperti kebiasaan waktu itu. Allah dalam Quran membenarkan kebiasaan ini dengan membagikan booty kepada Nabi dan pasukannya (lebih jauh saya tulis dibawah). Dalam pemahaman saya, Nabi dan muslim pada waktu itu boleh menyerang siapapun yang dianggap musuh, yang menyebarkan fitnah dan merintangi perkembangan Islam, dan merampas harta kekakayaannya dan menjadikan tawanan sebagai budak (dan budak perempuan sebagai pemuas nafsu pasukan muslim) Seperti saya sampaikan semua tindakan Nabi selalu ada justifikasinya dan tidak ada yang salah. Kita tidak bisa menilainya apalagi dengan ukuran sekarang. Semua itu adalah untuk perkembangan Islam. Nabi se-olah-olah “terpaksa” melakukan itu. Pilihannya “diserang dan kalah” atau “menyerang dan menang”. Tentu saya bisa paham kalau kita bicara dalam konteks pemimpin perang atau raja-raja dan bukan dalam konteks Nab

Bagian 1 Banyak sekali pertanyaan dalam pikiran saya. Sudah lama saya berhenti sholat karena saya merasa seperti robot. Saya berhenti pergi sholat jumat karena terlalu sering mendengar khotbah “permusuhan” terutama dengan Yahudi dan AS/Barat. Seolah-olah khotbah itu untuk “menanamkan” kebencian dalam hati saya terhadap yahudi dan AS. Saya tidak mengerti kenapa teroris yang mengatas-namakan Islam samasekali tidak merasa bersalah telah membunuh dan menyengsarakan banyak orang. Ironisnya, mereka merasa bahwa semua itu mereka lakukan untuk Allah, dan mereka lakukan dengan menyebut “Allahuakbar”. Saya tidak bisa bicara apa-apa atau berkomentar karena saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang Islam. Saya tidak pernah membaca Quran, Sahih Hadiths ataupun Sirat (sejarah) Nabi. Pada intinya saya tidak pernah benar-benar melaksanakan rukun islam, kecuali mengaku bahwa saya orang Islam. Saya hanya yakin bahwa semua agama adalah baik, selalu mengajarkan kebaikan. Dalam pikiran saya, kalau merasa seperti robot pada waktu sholat, itu karena saya belum tahu apa-apa tentang Islam. Saya selalu beranggapan bahwa teroris itu salah dalam pemahaman mereka tentang Islam. Saya merasa bahwa tidak mungkin agama mengajarkan hal seperti itu. Juga para Imam yang memberi khotbah Jumat, yang menyebarkan kebencian. Mayoritas orang muslim adalah baik. Aa Gym, dia orang baik (menurut saya walaupun kemudian agak terganggu setelah mendengar keputusannya untuk kawin lagi dengan menggunakan alasan-alasan agama). Pada waktu mendengarkan ceramahnya, hati saya merasa jadi lebih baik. Dia memancarkan kebaikan. Pesan-pesannya sangat menyentuh, bermoral. Dan dia bilang bahwa itu semua dia dapat dari pemahaman dia pada ajaran Nabi, Quran dan Hadiths. Sangat bertentangan dengan pemahaman para teroris. Saya bilang Aa Gym adalah cerminan Islam yang benar dan teroris Islam itu salah. Pandangan saya ini bukan karena saya mengerti Islam, tapi semata-mata karena hati saya cenderung mengatakan itu. Apa yang saya anggap benar itu semata-mata bersumber dari suara hati saya. Saya beranggapan bahwa siapapun yang belajar agama (apapun) seharusnya akan menjadi manusia yang lebih baik terhadap sesama, lebih toleran terhadap orang lain, intinya lebih bermoral. Kalau sebaliknya yang terjadi, saya merasa pasti ada yang salah. Fanatisme selalu ada dalam setiap agama. Sebagai orang yang mengaku Islam, tentu saja saya merasa bahwa jalan yang benar adalah Islam. Buat pemeluk yang lain tentu agama mereka yang benar. Keyakinan ini tidak seharusnya menjadi sumber permusuhan. Seperti yang saya tahu Islam mengajarkan “tidak ada pemaksaan dalam agama”. Prinsipnya saling menghormati. Saya merasa sangat terganggu dengan tayangan TV bertema Islam yang sering menggambarakn ancaman Allah yang sengat kejam. Saya mengerti bahwa tayangan itu dimaksudkan untuk menambah keimanan Islam kita. Yang saya tidak mengerti kenapa penggambarannya selalu dengan hukuman Allah yang begitu kejam. Semua dengan khotbah ayat-ayat Quran sebagai penutup acara. Waktu Aa Gym kawin lagi, saya sangat terpukul. Saya tidak setuju tapi tidak bisa berkomentar banyak. Saya merasa ada yang salah. Penilaian saya semata-mata hanya karena suara hati saya mengatakan demikian. Poligami selalu menjadi perdebatan. Ada yang setuju ada yang tidak. Semua argumennya didasarkan pada Quran, hadiths. Apa nabi menganjurkan poligami ? Saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Islam. Ulama bicara macam-macam bahkan bisa berseberangan. Semua merasa apa yang mereka sampaikan bersumber dari Quran, hadiths dan Sirat Nabi. Saya merasa yang sesuai dengan suara hati itulah yang betul dan yang tidak itu salah. Pendapat saya ini aneh karena tidak saya dasarkan pada pengetahuan saya sendiri akan Islam. Kalau saya mendengar ajaran Islam dari Ulama tertentu yang tidak sesuai dengan suara hati, saya menolak. Selalu saya akan mencari pembenaran sendiri bahwa tidak mungkin seperti itu. Begitu banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang sulit untuk saya ungkapkan. Ini semua mendorong saya untuk ingin tahu lebih banyak tentang Islam, dengan membaca sendiri Quran, Tafsir, Hadiths, dan Sirat Nabi. Saya ingin tahu lebih banyak supaya saya bisa menjalankan kehidupan agama saya, keluarga saya, istri dan anak-anak saya dengan sebaik-baiknya. Saya tidak bisa menjalankan sesuatu yang saya tidak pahami betul. Saya tidak bisa berpura-pura. Saya tahu orang tua saya sangat menginginkan saya untuk menjalankan islam saya dengan sebaik-baiknya, sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Semuanya untuk kebaikan hidup dunia dan akhirat. Saya ingin tahu sendiri bagaimana sejarah Nabi dari sumber-sumber Islam, saya ingin tahu Quran, saya ingin baca sendiri Hadiths yang dianggap sahih. Dengan demikian saya tidak terombang-ambing oleh orang lain. Bukankah Islam itu rahmat untuk semua manusia ? Buku-buku tentang Islam banyak sekali. Buku tentang sejarah nabi, tafsir Quran banyak sekali. Saya harus mulai dari mana? Begitu mulai saya tahu bahwa ternyata tidak mudah bahkan untuk mencari sumber-sumber yang bisa dipercaya. Kalau kita membaca tulisan Islam yang bicara baik-baik, kita akan langsung setuju dan tidak pernah mau tahu sumbernya dari mana. Sekalipun mungkin ceritanya absurd. Sebaliknya kalau ada tulisan yang negatif kita akan bilang bahwa itu rekayasa, palsu, sekalipun tulisan itu memberikan sumbernya. Tafsir juga macam-macam. Buku-buku Islam modern sangat beragam. Masing-masing mengandung opini dari penulisnya. Kadang kita setuju kadang tidak. Jadi sangat sulit. Dengan kondisi semacam ini, saya ingin kembalikan ke sumber awalnya. Saya cari buku-buku Islam awal yang banyak menjadi rujukan penulis-penulis modern. Beberapa yang paling utama adalah buku biografi nabi paling awal “Sirat Rasul Allah” oleh Muhammad Ibn Ishaq (th.768) yang kemudian dikumpulkan dan “disaring” olah Ibn Hisham (th 833) dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh A. Guillaume. Kisah perang nabi dengan judul “Kitab al-Maghazi” ditulis oleh Al-Waqidi (th 823). Kemudian muridnya Ibn Sa’d (th 845) dengan bukunya “Kitan al-tabaqat al-Kabir (the great book of classes), yang menguraikan kualitas nabi dan misi-misinya. Kemudian Al-Tabari (th 923) dengan bukunya yang dianggap monumental “Tarikh al-Rusul wa’l Muluk” (History of the Apostles and the Kings) dan juga buku tafsirnya. Tafsir Quran Al-Tabari, Az-Zamakhshari (d.1144), Ibn Kathir (th1373), Al-Qurtubi, Jalalayn, Muhammad Abduh (d.1905). Juga buku-buku Kamus Islam, atau tulisan-tulisan Islam lainnya. Sahih hadiths Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Malik Muwatta, Hadiths Qudsi. Saya juga mulai mengenal biografi nabi oleh penulis modern seperti Muhammad Haekal, Saifur Rahman al-Mubarakpuri (bukunya berjudul “The Sealed Nectar” yang memperoleh pengahargaan pertama olah dunia muslim dalam kompetisi mengenai tulisan sejarah nabi di Mekkah th 1979). Saya juga mulai membaca beberapa Quran terjemahan Indonesia: Depag, HB Yassin) dan Inggris (Yusuf Ali, Shakir, Pickthall, Palmer, Muhsin Khan, Syed Abu-Ala' Maududi). Dan banyak lagi. Saya mulai mengenal sumber-sumber tersebut, ada yang sudah saya baca secara keseluruhan, ada juga yang saya baca perbagian sesuai dengan apa yang ingin saya ketahui. Banyak sekali buku-buku tersebut yang sekarang sudah on-line terutama dari web-site muslim. Kalau beli harganya lumayan mahal. (Suatu hari saya ke Gn. Agung mencari buku sejarah nabi. Saya ketemu karangan Haekal dengan pengantar Hamka. Saya tertarik. Saya beli, kalau tidak salah harganya lebih dari 350 rb. Pada waktu saya cari di internet, saya dapat bukunya, sama persis bahkan saya juga bisa dapat yang terjemahan inggris. “Gratis”, ongkos download aja). Saya juga beli hadiths Bukhari dan muslim yang tidak komplit, habis lebih dari 500rb. Ternyata saya cari di internet saya malah dapat yang komplit, gratis lagi. Begitu juga quran, tafsir, dsb. Saya mulai banyak membaca diskusi-diskusi Islam. Seolah-olah hari-hari saya, sampai saat ini, hampir semuanya tercurah untuk mengenal lebih banyak tentang islam. Kapan saja ada waktu, pasti saya berkutat disini. Bisa dari bangun tidur, sampai malam mau tidur. Non-stop. Banyak sekali yang saya ingin tahu. Kaget dan shock. Itu yang saya dapat. Gambaran yang saya dapat dari sumber-sumber itu mengenai sejarah nabi, para sahabat (kalifa dan sahaba), istri-istri nabi, sejarah islam “seolah-olah” bertentangan dengan yang saya yakini selama ini. Setiap saya baca sesuatu yang tidak pas dengan pemahaman saya, saya selalu berusaha menolak. Ada yang berkomentar mungkin sumber yang saya baca palsu, hasil propaganda yahudi, barat, orientalis. Mungkin pemahaman saya salah, diluar konteks. Mungkin saya seharusnya membaca Quran dalam bahasa Arab, dsb. Justru karena saya menolak hal-hal negatif yang saya baca tentang Islam, saya berusaha sangat berhati-hati untuk mencoba memahaminya. Saya pastikan bahwa sumber yang saya baca asli dari sumber muslim dan sama dengan yang dibaca oleh para ulama dan kalangan muslim. Saya berusaha mengerti benar konteksnya. (Sebaliknya untuk pernyataan yang sifatnya positif, tentu saya tidak perlu meragukan keasliannya meskipun pernyataan tsb tidak pernah memberikan sumbernya dari mana, bahkan konteksnya sekalipun). Tuntunan saya suara hati dan akal. Saya sering merenung tentang moral. Di masyarakat Inuit (orang yang tinggal didaerah dekat kutub utara), orang akan menawarkan istrinya untuk ditiduri tamunya. Apakah ini bermoral ? Kalau tidak kenapa itu dilakukan oleh masyarakat itu? Tentu menurut masyarakat tsb tidak ada yang salah dengan hal itu. Dengan begitu menurut ukuran mereka tindakan itu bermoral? Bagaimana menilainya? Kalau kita yang disuruh menilai tindakan itu, tentu kita akan bilang itu tidak bermoral. Apa dasarnya? Agama? Jadi apakah moralitas datangnya dari ajaran agama? Apakah dengan begitu orang yang tidak beragama tidak bermoral atau akan mudah kehilangan moralnya? Apakah moralitas hasil dari agama? Kalau misalnya saya tanyakan ada orang yang secara seksual bernafsu terhadap ibu atau saudara kandungnya (incest), apakah itu bermoral? Kita bisa bilang dengan pasti bahwa orang itu gila dan tidak bermoral. Kenapa? Pendapat kita ini hasil dari mana? Apakah dari agama? Saya merasa bahwa sebagian besar moralitas kita berasal dari instinct kita, suara hati kita (sebagian besar percaya bahwa suara hati adalah suara Ilahi). Sebagai contoh incest tadi dianggap tidak bermoral oleh setiap masyarakat, baik itu beragama maupun tidak. Tentu saja ada orang cacat mental yang mau melakukan itu. Jadi bagaimana ukuran moral? Apakah moral berubah-ubah sesuai perkembangan jaman, dan budaya masyarakatnya? Bagaimana dengan poligami, poliandri? Apakah mempertontonkan anggota badan kita bermoral? Di hutan Amazon, beberapa suku telanjang bulat. Orang bali jaman dulu memperlihatkan payudaranya. Apakah ini bermoral? Di beberapa negara muslim, perempuan muslim diharuskan memakai burka. Apakah ini bermoral? Kalau jawabannya ya, tentu orang yang tidak memakai burka dianggap tidak bermoral? Bagaimana dengan yang mengenakan Jilbab. Atau orang yang mengenakan bikini di pantai? Apakah mereka tidak bermoral? Banyak yang berpendapat bahwa itu tergantung dari siapa kita dan bagaimana standard pribadi kita mengenai moral. Saya pribadi yakin bahwa yang namanya moral sifatnya abadi, tidak dibatasi waktu dan tempat. Apakah moral berubah-ubah sesuai perkembangan jaman? Apakah tidak bermoral disuatu tempat bisa bermoral ditempat lain? Saya tidak tahu definisinya. Kadang kita mencampur adukan moral dengan etika. Saya tidak tahu mana yang sifatnya lebih tinggi. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa ada suatu nilai yang sifatnya abadi. Suara hati kita bilang mencuri itu salah, tidak bermoral. Memperkosa orang itu tidak bermoral. Membunuh itu salah. Intinya: Jangan melakukan sesuatu yang kamu tidak mau orang lain melakukannya terhadapmu. Saya bilang ini “golden rule”. Jangan menyakiti orang kalau kamu tidak mau disakiti. Jangan melanggar hak orang kalau hak kamu tidak mau dilanggar. Kamu tidak mau diperkosa, maka jangan memperkosa orang. Kamu tidak mau diperbudak, maka jangan memperbudak orang (harus dibedakan dengan pembantu: pembantu adalah pekerjaan yang sifatnya timbal balik, sesuai persetujuan. Sebaliknya budak itu seperti barang, komoditi, dimiliki dan bisa diperjual belikan). Perbudakan pada jaman dulu dinggap praktek yang normal. Saya bilang bahwa itu tidak bermoral, baik kita mengukurnya pada jaman dulu atau sekarang. Kalau orang dulu menganggap bahwa praktek itu normal, itu bukan berarti bahwa itu bermoral. Saya yakin pasti ada orang orang jaman dulu yang masih punya hati menganggap bahwa praktek ini tidak bermoral meskipun itu umum dilakukan. Kalau kita lihat film perang jaman dulu, serdadu yang menang ada yang membunuh anak-anak dan perempuan biasa bahkan memperkosa mereka, mengambil harta benda mereka, kita bilang bahwa serdadu itu tidak bermoral. Buat saya perbuatan itu tidak ada justifikasinya meskipun itu jaman perang. Tawanan perang yang dijadikan budak seks apakah itu bermoral? (Contoh serdadu Jepang yang menjadikan tawanan perempuan sebagai budak seks mereka, kapanpun kita menilainya, kita bisa bilang itu tidak bermoral). Hitler membunuh banyak orang Yahudi, termasuk perempuan maupun anak-anak. Kita bilang dia tidak bermoral. Buat pengikutnya, dia adalah pahlawan. Manusia selalu punya dua sisi, baik dan jahat. Penipu seringkali berbicara sangat sopan, diluar kelihatan sangat baik, kata-katanya manis tapi perbuatannya samasekali berlawanan. Orang bisa berkhotbah yang baik-baik, manganjurkan kita berbuat baik tapi kalau dia sendiri melakukan hal-hal yang berlawanan dengan anjurannya, integritasnya perlu kita pertanyakan. Semua tindakan kita selalu ada alasannya. Diri kita dinilai dari kata-kata dan perbuatan, tapi perbuatan memberi bobot yang lebih besar. “Actions speak louder than words”. Begitu istilah populernya. Banyak orang yang mengaku nabi sebelum dan setelah nabi Muhammad. Muslim tidak mengakui orang-orang seperti Baha'ullah (Bahais, mengakaui Nabi Muhammad, tetapi mengaku mendapat wahyu sebagai Nabi baru sebagai penerus Nabi Muhammad), Joseph Smith (pendiri mormons, tidak ada hubungannya dengan isalm), Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyya, mengaku dirinya sebagai reformer/pembaharu tidak tidak dengan wahyu baru). Mereka pada umumnya hidup menderita karena klaim mereka itu. Orang muslim marah karena menganggap Lia Aminudin, juga Ahmadiyah menyebarkan fitnah. Tapi bagaimana kita tahu mereka nabi palsu? Tentu karena kita percaya bahwa tidak akan ada nabi lagi setelah nabi muhammad. Verifikasi kita didasarkan iman islam kita? Ada yang mengatakan “Dalam iman jangan menggunakan akal karena kalau kamu melakukannya kamu akan jadi ateis”. Apakah dengan demikian Akal dan Iman bertolak belakang? Seperti yang saya pahami iman adalah percaya sesuatu tanpa bukti, tanpa kita mengetahuinya. Konsep surga dan neraka adalah salah satu contohnya. Ini diluar akal manusia. Tapi kita percaya. Ini Iman. Apakah dengan begitu kita percaya saja tanpa lagi perlu berpikir? Saya yakin bahwa banyak hal di dunia yang tidak terjangkau akal manusia. Tapi apakah ini kemudian juga berarti bahwa hal-hal yang bisa kita cerna dengan akal terus kita abaikan hanya karena Iman? Bukankah bisa kita bilang bahwa “mengabaikan” akal dan hati itu yang terjadi pada banyak penganut aliran kepercayaan (dan penganut agama?). Sederhananya, kita sebagai orang muslim tidak bisa mengerti bagaimana orang-orang (pandai sekalipun) bisa masuk dalam aliran kepercayaan tertentu, atau misalnya jadi pengikut Lia Aminudin. Atau pendeta yang mengatas-namakan Tuhan-nya untuk membenarkan semua tindakkannya. Dan ironisnya, pengikutnya percaya. Menurut saya, begitu para pengikut itu percaya hal-hal absurd yang disampaikan pemimpinnya berdasarkan iman tadi, maka apapun yang disampaikan pemimpinnya dipercayai kebenarannya. Jadi tidak heran kalau misalnya orang yang mengaku utusan Tuhan bilang bahwa dia mendapatkan perintah Tuhan untuk menikahi anak pengikutnya yang masih kecil, pengikutnya akan dengan senang hati menerima keputusan itu. Atau kalau pemimpinnya minta mereka membunuh orang yang dianggap pemimpinnya melawan perintah Tuhannya, pengikutnya akan dengan senang hati melakukanya karena merasa bahwa dengan menuruti perintah itu dia akan mendapat pahala di surga. Bahkan untuk bunuh diri sekalipun. Absurd, tapi tetap percaya. Pikiran dan hatinya mati. Dengan fakta seperti ini, apakah saya bisa bilang bahwa orang dari agama lain akan memandang saya seperti saya memandang mereka? Apakah menurut mereka “Pikiran dan hati saya mati”. Orang yang dilahirkan sebagai Hindu dan dibesarkan dalam lingkungan Hindu lebih banyak akan tetap menjadi Hindu. Demikian juga untuk agama atau aliran kepercayaan lain. Menurut mereka itulah keyakinan yang paling betul. Dan ironisnya tanpa mereka pernah memverifikasinya sendiri. Semuanya “given”, turun temurun. Mereka yakin orang tua mereka tidak akan menyesatkan mereka. Jadi bagaimana orang bisa berubah? Tentu harus dengan pencarian dan pemahaman sendiri. Apapun hasilnya, orang yang mau belajar akan jauh lebih baik dalam menjalankan hidupnya. Ini tidak mudah. Keyakinan yang ditanamkan kepada kita sejak kecil seringkali tanpa kita sadari selalu tertanam dalam benak kita sampai dewasa. Konsekuensinya adalah bahwa kita seringkali ingin membuat fakta apapun yang dijumpai yang tidak rasional sekalipun menjadi sesuai dengan keyakinan kita. Manusia dibekali Allah dengan hati dan pikiran tapi ironisnya begitu hal itu berkaitan dengan keyakinan agama seringkali mereka tidak mau menggunakannya meskipun misalnya jelas-jelas hati dan akalnya mengatakan sebaliknya. Bagi kita Nabi adalah contoh moral yang sempurna. Quran diturunkan Allah lewat Jibril kepada nabi Muhammad. Bagaimana kita tahu itu? Karena Quran yang mengatakan itu. Tapi siapa yang menyampaikan Quran kepada kita? Nabi Muhammad. Bagaimana kita tahu bahwa apa yang disampaikan Nabi itu betul? Ya karena Nabi adalah utusan Allah. Siapa yang bilang itu? Quran. Jawabannya berputar. Intinya, adalah kita percaya, itu saja. Bagaimana dengan pemeluk agama lain atau aliran kepercayaan? Bukankah hal yang sama terjadi? Kalau ada orang mengaku sebagai nabi, yang membenarkan islam, yahudi, kristen (seperti Bahaisme) kita tidak percaya. Banyak orang muslim yang memusuhi mereka, menganggap gila dsb. Kalau Lia Eden mengaku sebagai nabi, pada umumnya orang muslim marah. Mereka dianggap menyebarkan fitnah. Apa itu fitnah? Mungkin kita ingat ajaran islam yang mengatakan bahwa “fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan”. Jadi kalau orang melakukan fitnah, maka membunuh orang itu adalah adil? Mesjid orang Ahmadiyah di Jawa Timur dibakar, pengikutnya diusir, dimusuhi. Saya tidak setuju, tapi sebagai orang muslim bisa mengerti kenapa mereka marah. Coba kita bayangkan. Ada orang yang mengaku nabi yang bilang bahwa dia hanya menyampaikan kebenaran berdasarkan wahyu Allah, yang mengaku-aku seperti Bahaisme itu. Dia mulai punya pengikut beberapa diantaranya orang-orang muslim. Orang muslim tentu akan marah dan menganggap orang ini menyebarkan fitnah. Orang ini dianggap gila, dihina dicaci maki, kalau perlu dibunuh. Tapi orang ini tetap saja pada keyakinannya, tetap saja mengajarkan keyakinannya. Dia bilang bahwa dia hanya menyampaikan kebenaran saja. Kalau percaya silahkan, kalau tidakpun Ok. Tidak ada pemaksaan. Apapun termasuk kekayaan tidak mempan untuk meminta dia menghentikan kegiatannya. Bertahun-tahun berlalu. Pengikutnya bertambah, tapi tidak banyak. Karena dikucilkan masyarakat, mereka akhirnya merasa terusir dari tempatnya. Mereka pergi ketempat lain yang bisa lebih menerima mereka. Hidup miskin karena semua sudah ditinggalkan. Untuk hidup, pemimpin ini mulai membenarkan apapun selama dilakukan untuk kepentingan keyakinannya, termasuk menyerang dan merampas kekayaan orang-orang yang berseberangan dengan mereka dan yang dulu mereka anggap mengusir mereka. Ajarannya sama sekali sudah berubah. Yang tidak sepaham dengan dia adalah musuhnya. Akhirnya mereka menjadi sangat kuat. Orang-orang yang menghina mereka dan yang berseberangan dengan mereka akhirnya bisa ditaklukan. Tidak semua dibunuh asalkan mereka percaya dengan apa yang disampaikan. Orang-orang yang dulu dianggap keterlaluan menentang dibunuh. Dia mengajarkan persaudaraan diantara pengikutnya. Saling membantu. Diluar pengikutnya adalah musuh. Mereka membenarkan kekerasan yang mereka lakukan dengan alasan bahwa merakalah yang lebih dulu menganiaya mereka. Merekalah yang dulu menyerang, menghina mereka padahal mereka ini hanya mengajarkan “kebenaran” yang disampaikan Tuhannya. Cerita diatas khayalan saja. Kalau kita disuruh menilai tentu kita bilang orang ini tidak betul. Kenapa? Bukankah mereka (kita sebut saja “A”) ini hanya ingin mengajarkan keyakinannya tanpa paksaan? Kita jawab: Iya, itu dulu sebelum “A” punya kekuatan. Tapi bukankah orang-orang (kita sebut saja “B”) yang menyakiti, menghina dia ini yang salah? Saya jawab: tentu “B” juga salah. Tapi “B” bilang bahwa justru “A” lah yang menyerang mereka dulu, yang menyebarkan fitnah, yang menghina keyakinan “B” sehingga mereka merasa perlu membalas dan menghentikan apa yang dilakukan “A”. “B” bilang kalau “A” berhenti menyerang, tentu perkaranya selesai. Kalau “A” dulu bilang hanya mau memberi peringatan, mengajarkan keyakinan yang dia anggap benar, kenapa sekarang “A” menyerang kita, merampas harta kita, memaksa kita untuk mengakui keyakinan “A”? Bukankah itu balas dendam? Bukankah itu pemaksaan? Pada waktu saya membaca quran, tafsir, hadiths, sirat, saya jumpai banyak sekali hal yang bertentangan dengan keyakinan saya. Saya tidak percaya, tapi itu yang saya ketemukan dari sumber-sumber islam. Tulisan berikut saya sarikan dari apa yang saya baca. Mungkin pemahaman saya salah. Saya ingin diluruskan kalau saya salah. Berikut kutipan artikel (sebagian) dari Jakarta Post (online; Opinion and Editorial) tgl. 20 April 2007 yang menceritakan pengalaman seorang kakak yang adiknya menjadi sangat intoleran setelah memperdalam islam (saya terjemahkan secara bebas). Jangan Salahkan Mereka yang tidak percaya Muslim Mohammad Yazid, Jakarta Untuk lebih memperdalam pemahaman Islam, orangtua saya mengijinkan adik saya untuk ikut dalam acara-acara diskusi dan pembacaan Quran. Setelah beberapa bulan, dia mulai memprlihatkan perubahan positif seperti menjalankan sholat secara teratur, dan zikir, yang sebelumnya jarang dia lakukan. Meskipun demikian, kurang lebih 1 th kemudian, dia mulai menunjukkan sikap yang berbeda. Dia mulai memperdebatkan interpretasi ayat-ayat Quran dan hadiths, juga dengan orangtua saya. Dia secara aktif mendorong teman-temannya untuk bergabung dalam groupnya, seringkali dengan mengabaikan bisnis kecil-kecilan yang telah diusahakannya beberapa tahun setelah SMA. Sebagai akibat dari pemahaman adik saya yang “tidak biasa” atas ajaran-ajaran Islam, seperti penolakannya dalam melakukan ritual sholat wajib dan puasa ramadhan dengan mengatakan bahwa “waktu yang tepat belum tiba”, ayah saya, seorang pengikut Muhamadiyah , merasa sulit untuk menerima sikap adik saya tsb, meskipun dia berusaha sangat keras untuk mengerti. Yang sangat disayangkan, diluar kenyataan itu adalah bahwa adik saya menjadi tidak toleran terhadap pandangan orang lain setelah hampir dua tahun mengikuti grupnya itu, tanpa pernah mengatakan siapa gurunya atau menceritakan apa tujuan grupnya. Tanpa berat hati, dia mencap mereka yang tidak sepaham dengan pendapatnya sebagai kafir. Pandanganya yang tertutup dan keyakinannya yang eksklusif mengakibatkan ketegangan di rumah. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan rumah tanpa mengatakan apa-apa, dan menutup bisnisnya. Pada tahap ini, dia bahkan menolak untuk menemui anggota keluarganya. “Mengapa studi agamanya membawa ke perpecahan keluarga dan pengetahuan agamanya yang meningkat menghasilkan kebencian?” adalah sesuatu yang saya pertanyakan… versi Bahasa Inggrisnya: Don't blame those who don't trust Muslims Opinion and Editorial - April 20, 2007 Mohammad Yazid, Jakarta In a bid to enhance his understanding of Islam, my parents allowed my younger brother to participate in Koranic recitation and discussion sessions. After a few months, he began to make positive changes such as performing regular evening prayers, and zikir (chanting verses in praise of Allah), which he had rarely done before. However, about a year later, he started to demonstrate a different attitude. He began to argue about the interpretation of the Koranic verses and hadiths (words and sayings of the Prophet Muhammad), also with my parents. He actively encouraged his friends to join his group's recitations, frequently neglecting the small business he had been developing for some years after high school. As a result of my brother's peculiar take on Islamic teachings, such as his refusal to perform obligatory prayers and Ramadhan fasting rituals by asserting that "the right time has not yet come", my father, a Muhammadiyah follower, found it difficult to accept my brother's attitude, although he tried hard to understand. Most regrettably, though, my brother grew intolerant of other people's views after almost two years attending the recitation group, without ever telling us who his teacher was or describing what the group got up to. Without any hesitation, he branded those not sharing his opinions as infidels. His closed viewpoint and exclusive beliefs also created tension within the family. He finally decided to leave home without saying anything, and closed up his business. By this stage, he was even refusing to see family members. "Why have his religious studies led to a family rift and his increased religious knowledge resulted in hatred?" was what I found myself asking. Nabi adalah panutan umat. Itu yang saya tahu. Seperti kutipan berikut dari ceramah Aa Gym: "Makhluk yang paling mulia ini (Muhammad SAW) juga dinamakan Ahmad, Musthafa, Abdullah, Abul-Qasim, dan juga bergelar Al Amin—yang terpercaya. Setiap nama dan gelar yang dimilikinya mengungkapkan suatu aspek wujud yang penuh berkah. Ia adalah, sebagaimana makna etimologis yang dikandung dalam kata Muhammad dan Ahmad, yang diagungkan dan dipuji; ia adalah musthafa (yang terpilih), abdullah (hamba ALLOH yang sempurna) dan terakhir, sebagai ayah Qasim. Ia bukan hanya Nabi dan utusan (rasul) ALLOH, tetapi juga kekasih ALLOH dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran, "Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam." (S.21:107). Jadi Nabi adalah contoh manusia yang sempurna dan kita sebagai orang muslim diperintahkan untuk menjalankan dan mangamalkan apa yang diajarkan nabi. Allah memerintahkan ini dalam Quran. Salah satunya dalam ayat berikut: (8:24) Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. Dengan seruan itu sewajarnya kita berusaha belajar mengenal Nabi secara lebih dalam, dari buku-buku sajarah Nabi. Bagaimana sebenarnya kehidupan Nabi, sikap Nabi? Apa kandungan Quran, apa yang ada dalam Hadiths. Tulisan saya berikut hanya berkaitan dengan hal-hal yang saya pertanyakan karena saya beranggapan apa yang saya baca ini tidak sesuai dengan “pemahaman saya” selama ini mengenai Quran, Nabi dan Islam secara keseluruhan.